Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Cara Atasi Overthinking dalam Islam

Cara Atasi Overthinking dalam Islam

Diposting pada 9 April 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 145 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Overthinking dapat diartikan sebagai kondisi di mana seseorang memberikan ruang terlalu banyak terhadap pikiran untuk berpikir secara terus-menerus tanpa menemui solusi. Sering kali overthinking atau berpikir berlebihan ini menyita banyak waktu malam atau menyita waktu kosong penderitanya sehingga waktu kosong yang seharusnya digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif terbuang sia-sia begitu saja.

Dijelaskan dalam Al-Qur’an, sesuatu yang berlebihan itu pasti buruk:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ ٣١ ( الاعراف/7: 31)

“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Al-A’raf/7:31)

Larangan Berlebihan dalam Beribadah

Segala sesuatu yang berlebihan Allah tidak menyukainya, termasuk dalam berpikir. Penyebab overthinking salah satunya diakibatkan oleh pembacaan atau penerimaan informasi yang berlebihan. Sebab informasi yang berlebihan membuat akal tidak dapat mencerna mana informasi yang penting dan yang tidak perlu. Bahayanya, informasi yang tidak perlu ini menganggu pikiran seseorang. Sedangkan segala sesuatu itu ada batasnya. Oleh karenanya, ketika batasan itu dilampaui maka akan terdapat konsekuensinya, baik secara langsung maupun tidak langsung akan memunculkan keburukan-keburukan terhadap diri kita.

Termasuk berlebihan dalam beribadah atau beragama, kita juga dilarang untuk tidak berlebihan. Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassallam pernah melarang seorang sahabat untuk tidak berpuasa sunnah terlampau sering. Sebab pada akhirnya puasanya yang terlampau sering itu melalaikannya untuk melakukan hal yang wajib, seperti mencari nafkah dan lainnya. Nabi juga pernah melarang seorang anak muda untuk tidak beribadah secara berlebihan, yakni tatkala ia menyengajakan berpuasa tanpa makan sahur. Pemuda tersebut beranggapan bahwa puasanya lebih hebat dan maksimal daripada Nabi. Namun kenyataannya tidak seperti demikian, karena setiap ibadah Allah telah menetapkan syariatnya yang di dalamnya terdapat kebaikan-kebaikan, baik yang diketahui oleh manusia atau tidak. Jika dalam ibadah dan beragama saja dilarang untuk berlebihan, begitu juga dalam berpikir.

Solusi Praktis Agar Tidak Berpikir Berlebihan

Lalu bagaimana caranya agar kita tidak berlebihan dalam berpikir? Dalam tuntunan Islam paling tidak ada beberapa hal. Pertama, menyadari bahwa pikiran itu memang harus dibatasi. Sebab, akal itu diciptakan dengan keterbatasan. Maka ketika menyadari bahwa pikiran itu ada batasnya jangan gunakan ia untuk sesuatu yang melebihi kapasitasnya.

Selain itu kita pun memiliki hati, yang salah satu gunanya untuk mengimbangi akal kita. Jalaludin Rumi, seorang Sufi asal Persia, menggambarkan penggunaan akal yang harus diimbangi dengan hati itu seperti dalam meyakini peristiwa agung Baginda Nabi. Yakni saat Nabi sampai ke langit ketujuh ketika Mi’raj, kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Dalam memahaminya akal tidak bisa menjangkau peristiwa itu. Maka di sinilah pentingnya menghadirkan hati untuk turut memahaminya, sehingga kita pun meyakini akan peristiwa agung Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassallam tersebut.

Kedua, ketika akal sampai pada batasnya maka berhentilah berpikir kemudian serahkan pada hati untuk mengambil alih kelelahan dalam berpikir tersebut. Misalnya kita telah mempersiapkan segala sesuatu untuk kegiatan yang akan dilakukan di esok hari, tapi kita masih merasa kurang dalam bersiap-siap, maka berhentilah dan serahkanlah kepada hatimu dengan merasa tenang dan tidak gusar terhadap apa yang akan terjadi di esok hari.

Menyerahkan porsi berlebihan dalam akal kepada hati ini dapat menggunakan perangkat atau ajaran-ajaran dalam Islam yang bahkan hal tersebut dapat bernilai ibadah. Seperti tawakal, ikhlas, sabar, tabah, dan semacamnya. Ajaran-ajaran tersebut dapat dilakukan dan merupakan pekerjaan hati. Janganlah jatah pekerjaan hati itu dikorupsi dengan menyerahkannya kepada pekerjaan akal sepenuhnya sehingga akal kita menjadi overthinking.

Ketiga, overthinking itu menurut seorang Psikolog yang bernama Karen Horney sering kali awal mula diciptakan dari kata “seharusnya”. Ia menjelaskan lebih lanjut konsep The Tyranny of the Shoulds atau “tirani seharusnya” ini mencengkeram para penderita overthinking. Seperti “saya seharusnya bisa seperti itu”, “saya seharusnya bisa semuanya”, “saya seharusnya lebih kaya”, dan lain sebagainya. Dari penjelasan tersebut, kita dapat memahami bahwa keinginan untuk menjadi “seharusnya” mesti diimbangi dengan kesadaran bahwa setiap manusia itu memiliki potensi atau kemampuannya masing-masing yang terbatas. Oleh karena itu, berhentilah berpikir dengan frame “seharusnya” menjadi frame berpikir “semampunya”. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala minta kepada hamba-Nya, bahkan dalam bertakwa kepada-Nya cukup dengan semampunya.

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ …١٦ ( التغابن/64: 16)

“Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! …” (At-Tagabun/64:16)

Keempat, menghargai setiap apa-apa yang kita sudah lakukan dengan maksimal. Sebab jika kita tidak menghargai apa yang sudah kita maksimalkan, kita akan diganggu oleh pikiran-pikiran yang merasa tidak cukup. Ketawakalan, kesabaran, keikhlasan dan semacamnya tidak akan terjadi jika kita tidak mengapresiasi atas apa yang sudah kita lakukan dengan maksimal.

Pada dasarnya overthinking itu diciptakan oleh kita sendiri. Oleh karena itu, jika Allah saja dapat mengampuni setiap hamba-Nya, padahal ia lebih berhak untuk menghukum hamba-Nya. Lalu kenapa kita menghukum diri sendiri, padahal itu bukan hak kita, dan hal itu hanya akan membuat kita semakin buruk. Maka ampuni diri kita sendiri dengan tidak berpikir berlebihan.

Semoga kita semua dapat menghindari pikiran berlebihan dan mengisinya oleh dzikir-dzikir kepada Allah atau hal-hal yang bermanfaat. Sebab dengan berdzikir pikiran akan menjadi tenang dan dengan melakukan kebermanfaatan, waktu menjadi lebih berharga.

Wallahu ‘Alam Bishowab

 

Penulis: Syahidan

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

Bagikan ke

Cara Atasi Overthinking dalam Islam

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Teks Khutbah Iduladha 1446 H/2025 M
3 Juni 2025

Jadikanlah Iduladha saat ini adalah untuk memulai dengan sungguh-sungguh berjuang dan berkorban dengan apa pun yang kita miliki untuk meruntuhkan... selengkapnya

Kapan Waktu Menyembelih Hewan Kurban yang Paling Afdhol? Begini Penjelasan Buya Yahya
16 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pertanyaan yang sering muncul ketika menjelang Iduladha salah satunya mengenai kapan waktu paling afdhol (utama) untuk menyembelih... selengkapnya

Kecerdasan Hati sebagai Dasar Kebangkitan Generasi Islam
24 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah kita menyaksikan sebuah gebyar yang menjunjung tinggi kepintaran? Saat masih anak-anak, kita mungkin pernah mendengar dengan... selengkapnya

Bijak dalam Bertindak (Utamakan Klarifikasi, Kesampingkan Emosi)
14 September 2021

Bijak dalam Bertindak (Utamakan Klarifikasi, Kesampingkan Emosi) Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA... selengkapnya

Buya Yahya: Silaturahmi yang Benar Harus Menggabungkan Aspek Zahir dan Batin
7 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Silaturahmi diambil dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Shilatun (صلة) yang berarti penghubung, ikatan atau... selengkapnya

Buya Yahya Ucapkan Selamat Hari Santri Nasional 2023
22 Oktober 2023

Hari ini, Ahad (22/10) bertepatan dengan perayaan Hari Santri Nasional 2023. Pada momentum berharga ini, kita perlu mengetahui makna dari... selengkapnya

Harmonika Peribadahan sebagai Pembentuk Simfoni Kehidupan
16 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bermula dari titik yang sangat kecil dan personal, yakni harmonika peribadahan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Di sinilah,... selengkapnya

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?
8 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak... selengkapnya

Menenun Cahaya Qur’ani di Tanah Cirebon: Jejak Langkah Pendidikan Formal Al-Bahjah
1 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah sudut yang hening namun penuh makna, tepatnya di Jl. Pangeran Cakrabuana No. 179 Cirebon, berdirilah sebuah... selengkapnya

Masih Punya Utang Puasa Namun Tidak Ingat Jumlahnya, Apa Yang Harus Dilakukan?
20 Maret 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat sekalian, puasa merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Siapa pun yang meninggalkan puasa... selengkapnya

Cara Atasi Overthinking dalam Islam

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: