● online
Cara Atasi Overthinking dalam Islam

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Overthinking dapat diartikan sebagai kondisi di mana seseorang memberikan ruang terlalu banyak terhadap pikiran untuk berpikir secara terus-menerus tanpa menemui solusi. Sering kali overthinking atau berpikir berlebihan ini menyita banyak waktu malam atau menyita waktu kosong penderitanya sehingga waktu kosong yang seharusnya digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif terbuang sia-sia begitu saja.
Dijelaskan dalam Al-Qur’an, sesuatu yang berlebihan itu pasti buruk:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ ٣١ ( الاعراف/7: 31)
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Al-A’raf/7:31)
Larangan Berlebihan dalam Beribadah
Segala sesuatu yang berlebihan Allah tidak menyukainya, termasuk dalam berpikir. Penyebab overthinking salah satunya diakibatkan oleh pembacaan atau penerimaan informasi yang berlebihan. Sebab informasi yang berlebihan membuat akal tidak dapat mencerna mana informasi yang penting dan yang tidak perlu. Bahayanya, informasi yang tidak perlu ini menganggu pikiran seseorang. Sedangkan segala sesuatu itu ada batasnya. Oleh karenanya, ketika batasan itu dilampaui maka akan terdapat konsekuensinya, baik secara langsung maupun tidak langsung akan memunculkan keburukan-keburukan terhadap diri kita.
Termasuk berlebihan dalam beribadah atau beragama, kita juga dilarang untuk tidak berlebihan. Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassallam pernah melarang seorang sahabat untuk tidak berpuasa sunnah terlampau sering. Sebab pada akhirnya puasanya yang terlampau sering itu melalaikannya untuk melakukan hal yang wajib, seperti mencari nafkah dan lainnya. Nabi juga pernah melarang seorang anak muda untuk tidak beribadah secara berlebihan, yakni tatkala ia menyengajakan berpuasa tanpa makan sahur. Pemuda tersebut beranggapan bahwa puasanya lebih hebat dan maksimal daripada Nabi. Namun kenyataannya tidak seperti demikian, karena setiap ibadah Allah telah menetapkan syariatnya yang di dalamnya terdapat kebaikan-kebaikan, baik yang diketahui oleh manusia atau tidak. Jika dalam ibadah dan beragama saja dilarang untuk berlebihan, begitu juga dalam berpikir.
Solusi Praktis Agar Tidak Berpikir Berlebihan
Lalu bagaimana caranya agar kita tidak berlebihan dalam berpikir? Dalam tuntunan Islam paling tidak ada beberapa hal. Pertama, menyadari bahwa pikiran itu memang harus dibatasi. Sebab, akal itu diciptakan dengan keterbatasan. Maka ketika menyadari bahwa pikiran itu ada batasnya jangan gunakan ia untuk sesuatu yang melebihi kapasitasnya.
Selain itu kita pun memiliki hati, yang salah satu gunanya untuk mengimbangi akal kita. Jalaludin Rumi, seorang Sufi asal Persia, menggambarkan penggunaan akal yang harus diimbangi dengan hati itu seperti dalam meyakini peristiwa agung Baginda Nabi. Yakni saat Nabi sampai ke langit ketujuh ketika Mi’raj, kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Dalam memahaminya akal tidak bisa menjangkau peristiwa itu. Maka di sinilah pentingnya menghadirkan hati untuk turut memahaminya, sehingga kita pun meyakini akan peristiwa agung Baginda Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassallam tersebut.
Kedua, ketika akal sampai pada batasnya maka berhentilah berpikir kemudian serahkan pada hati untuk mengambil alih kelelahan dalam berpikir tersebut. Misalnya kita telah mempersiapkan segala sesuatu untuk kegiatan yang akan dilakukan di esok hari, tapi kita masih merasa kurang dalam bersiap-siap, maka berhentilah dan serahkanlah kepada hatimu dengan merasa tenang dan tidak gusar terhadap apa yang akan terjadi di esok hari.
Menyerahkan porsi berlebihan dalam akal kepada hati ini dapat menggunakan perangkat atau ajaran-ajaran dalam Islam yang bahkan hal tersebut dapat bernilai ibadah. Seperti tawakal, ikhlas, sabar, tabah, dan semacamnya. Ajaran-ajaran tersebut dapat dilakukan dan merupakan pekerjaan hati. Janganlah jatah pekerjaan hati itu dikorupsi dengan menyerahkannya kepada pekerjaan akal sepenuhnya sehingga akal kita menjadi overthinking.
Ketiga, overthinking itu menurut seorang Psikolog yang bernama Karen Horney sering kali awal mula diciptakan dari kata “seharusnya”. Ia menjelaskan lebih lanjut konsep The Tyranny of the Shoulds atau “tirani seharusnya” ini mencengkeram para penderita overthinking. Seperti “saya seharusnya bisa seperti itu”, “saya seharusnya bisa semuanya”, “saya seharusnya lebih kaya”, dan lain sebagainya. Dari penjelasan tersebut, kita dapat memahami bahwa keinginan untuk menjadi “seharusnya” mesti diimbangi dengan kesadaran bahwa setiap manusia itu memiliki potensi atau kemampuannya masing-masing yang terbatas. Oleh karena itu, berhentilah berpikir dengan frame “seharusnya” menjadi frame berpikir “semampunya”. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala minta kepada hamba-Nya, bahkan dalam bertakwa kepada-Nya cukup dengan semampunya.
فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ …١٦ ( التغابن/64: 16)
“Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! …” (At-Tagabun/64:16)
Keempat, menghargai setiap apa-apa yang kita sudah lakukan dengan maksimal. Sebab jika kita tidak menghargai apa yang sudah kita maksimalkan, kita akan diganggu oleh pikiran-pikiran yang merasa tidak cukup. Ketawakalan, kesabaran, keikhlasan dan semacamnya tidak akan terjadi jika kita tidak mengapresiasi atas apa yang sudah kita lakukan dengan maksimal.
Pada dasarnya overthinking itu diciptakan oleh kita sendiri. Oleh karena itu, jika Allah saja dapat mengampuni setiap hamba-Nya, padahal ia lebih berhak untuk menghukum hamba-Nya. Lalu kenapa kita menghukum diri sendiri, padahal itu bukan hak kita, dan hal itu hanya akan membuat kita semakin buruk. Maka ampuni diri kita sendiri dengan tidak berpikir berlebihan.
Semoga kita semua dapat menghindari pikiran berlebihan dan mengisinya oleh dzikir-dzikir kepada Allah atau hal-hal yang bermanfaat. Sebab dengan berdzikir pikiran akan menjadi tenang dan dengan melakukan kebermanfaatan, waktu menjadi lebih berharga.
Wallahu ‘Alam Bishowab
Penulis: Syahidan
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Cara Atasi Overthinking dalam Islam
Jadikanlah Iduladha saat ini adalah untuk memulai dengan sungguh-sungguh berjuang dan berkorban dengan apa pun yang kita miliki untuk meruntuhkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pertanyaan yang sering muncul ketika menjelang Iduladha salah satunya mengenai kapan waktu paling afdhol (utama) untuk menyembelih... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah kita menyaksikan sebuah gebyar yang menjunjung tinggi kepintaran? Saat masih anak-anak, kita mungkin pernah mendengar dengan... selengkapnya
Bijak dalam Bertindak (Utamakan Klarifikasi, Kesampingkan Emosi) Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Silaturahmi diambil dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Shilatun (صلة) yang berarti penghubung, ikatan atau... selengkapnya
Hari ini, Ahad (22/10) bertepatan dengan perayaan Hari Santri Nasional 2023. Pada momentum berharga ini, kita perlu mengetahui makna dari... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bermula dari titik yang sangat kecil dan personal, yakni harmonika peribadahan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Di sinilah,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah sudut yang hening namun penuh makna, tepatnya di Jl. Pangeran Cakrabuana No. 179 Cirebon, berdirilah sebuah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat sekalian, puasa merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Siapa pun yang meninggalkan puasa... selengkapnya
Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.