● online
(Cerpen) Di Antara Titik dan Koma

HUJAN turun pelan sejak sore, seperti sengaja menunda reda. Tidak deras, tidak pula berhenti. Butirannya jatuh satu-satu di atas atap seng rumah Faris, menimbulkan suara berirama yang samar cukup untuk didengar, terlalu lembut untuk diabaikan. Dari balik jendela, Faris memandang ke luar tanpa benar-benar memperhatikan apa pun. Matanya terbuka, tapi pikirannya jauh.
Rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi sejak ayahnya meninggal. Selalu ada suara—langkah kaki ibu di dapur, napas adik-adiknya saat tidur, atau televisi tetangga yang terdengar samar. Namun bagi Faris, kesunyian bukan soal bunyi. Kesunyian adalah ketika tidak ada lagi tempat bertanya, tidak ada lagi suara yang memberi arah, dan tidak ada lagi figur yang dulu berdiri paling depan saat hidup terasa terlalu berat.
Di ruang tengah, terhampar sajadah lama berwarna hijau pudar. Sudutnya sedikit terkelupas, benangnya mulai longgar, dan warnanya tidak lagi secerah dulu. Namun Faris tidak pernah berniat menggantinya. Di situlah ayahnya biasa berdiri setiap Subuh, meluruskan niat sebelum meluruskan punggung. Di situlah ibunya dahulu berlama-lama setelah shalat, mengangkat tangan dengan doa yang panjang dan lirih. Kini, sajadah itu menjadi tempat Faris menata ulang dirinya atau setidaknya sebagai tempat mencoba.
Ia duduk bersila di atas sajadah, tasbih berada di tangan kanan. Butirannya terhenti di angka yang sama sejak beberapa menit lalu. Faris sadar ia berhenti berdzikir, tapi ia tidak memaksakan diri melanjutkan. Ada saat-saat ketika lisan bisa bergerak, tetapi hati tertinggal di belakang. Dan malam ini, hatinya sedang tertahan.
Sejak ayahnya pergi, hidup Faris terasa seperti kalimat yang kehilangan tanda baca. Semua kata berdesakan, tidak rapi, dan sulit dipahami. Dulu hidupnya berjalan dengan urutan yang jelas: kuliah, lulus, bekerja, membantu keluarga. Sekarang urutan itu berantakan. Yang tersisa hanya kewajiban-kewajiban yang datang lebih cepat daripada kesiapan. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk. “Astaghfirullah,” gumamnya pelan, bukan kesadaran akan dosa, tetapi karena pikirannya mulai lelah.
Ayah Faris meninggal tanpa banyak tanda. Pagi itu masih sempat menegur Faris karena bangun kesiangan. Suaranya biasa saja, tidak keras, tidak marah. “Jangan biasakan Subuh kesiangan,” katanya. Faris hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
Siang harinya, ayah mengeluh dadanya sesak. Sore menjelang Magrib, ambulans datang. Dan malam itu, rumah Faris dipenuhi orang-orang dengan wajah serius dan suara berbisik. Ayahnya terbaring diam di ruang tamu, tubuhnya tertutup kain putih. Dunia tidak runtuh. Langit tidak pecah. Namun sesuatu dalam diri Faris patah—pelan, tanpa suara.
Pemakaman berlangsung sederhana. Tangisan ibunya tertahan, adik-adiknya masih terlalu kecil untuk mengerti, dan Faris berdiri kaku di dekat liang lahat. Saat tanah mulai ditimbunkan, Faris baru menyadari satu hal yang menghantam dadanya lebih keras dari kehilangan itu sendiri: mulai hari ini, ia sendirian di barisan depan.
Hari-hari setelahnya berjalan cepat dan lambat sekaligus. Cepat karena tuntutan hidup tidak memberi waktu berduka. Lambat karena setiap sudut rumah mengingatkannya pada ayah. Kursi kosong di ruang tamu. Gelas teh yang tak lagi disentuh. Sajadah yang kini tak lagi digunakan orang yang dulu paling ia andalkan.
Faris mencoba melanjutkan kuliah sambil bekerja. Ia bekerja di warung fotokopi, mengantar barang, melakukan apa saja yang bisa dilakukan oleh tenaga muda dengan upah pas-pasan. Namun realitas tak bisa dinegosiasikan. Biaya kuliah menunggak. Ibu jatuh sakit karena kelelahan. Adik bungsunya hampir dikeluarkan dari sekolah.
Keputusan itu akhirnya datang bukan sebagai pilihan, melainkan keharusan.
Faris mengurus pengunduran diri kuliah sendirian. Tidak ada yang menemaninya. Tidak ada yang menepuk bahunya dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Ia menandatangani formulir dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu melipat kertas itu rapi. Saat melangkah keluar dari kampus, Faris tidak menangis. Ia hanya merasa seperti menaruh titik di tempat yang salah.
Sejak hari itu, hidup Faris bergerak dalam pola yang sama. Bangun sebelum Subuh, shalat, bekerja, pulang sore dengan tubuh lelah, membantu ibu, lalu duduk kembali di atas sajadah malam hari. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, tapi ada banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.
Ia sering bertanya dalam diam, “Apakah ini sudah akhirnya?”
Ia tidak iri pada teman-temannya, tapi ada rasa asing setiap kali melihat unggahan kelulusan, pernikahan, atau perjalanan jauh. Seolah hidup mereka melaju, sementara hidupnya tertahan di satu titik—atau mungkin bukan titik, tetapi sesuatu yang belum ia pahami.
Ibunya sering berkata dengan suara lembut, “Sabar ya, Ris. Allah tahu.”
Faris selalu mengangguk. Ia percaya kalimat itu. Namun ia juga tahu, percaya tidak selalu berarti kuat. Kadang percaya hanya berarti tidak menyerah meski tidak mengerti. Doa-doanya panjang, tetapi sering terasa menggantung. Seperti kalimat yang belum selesai ditulis.
Malam Jumat itu, Faris pergi ke masjid kampung. Hujan sudah reda, menyisakan udara dingin dan aroma tanah basah. Masjid kecil itu tidak megah, tapi selalu terasa hangat. Seusai shalat Isya, imam masjid memberikan nasihat singkat.
“Hidup ini,” kata sang imam pelan, “tidak selalu diberi titik oleh Allah. Kadang Allah memberi koma. Supaya kita belajar melanjutkan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi Faris merasa seolah seseorang baru saja menyentuh luka yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Ia pulang dengan langkah pelan, mengulang kalimat itu dalam hati.
Mungkin aku belum selesai. Mungkin aku hanya sedang berada di antara titik dan koma.
Sejak malam itu, Faris berhenti menuntut hidupnya untuk segera berubah. Ia mulai fokus pada hari ini. Ia membaca buku bekas pinjaman dari masjid. Ia belajar lewat ponsel di sela istirahat kerja. Ia menulis catatan kecil tentang mimpi-mimpinya bukan untuk memaksa, tapi untuk mengingat bahwa ia masih punya arah.
Doanya berubah. Bukan lagi doa agar cepat selesai, tetapi doa agar dikuatkan. “Ya Allah,” bisiknya suatu malam, “aku lelah, tapi aku tidak ingin berhenti.”
Masalah tidak serta-merta hilang. Namun ada ketenangan kecil yang mulai tumbuh. Seperti jeda napas dalam kalimat panjang.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Pnyuntng: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
(Cerpen) Di Antara Titik dan Koma
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama karya Buya Yahya merupakan sebuah karya yang sangat menarik dan penuh makna,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Orang yang sudah mengikrarkan dirinya beriman secara otomatis akan mudah untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Ia juga akan secara... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pernahkah kita bekerja keras siang dan malam demi mengejar harta dan jabatan dunia tetapi malah merasa... selengkapnya
DI SEBUAH sekolah menengah Islam terpadu yang berdiri di pinggiran kota, terdapat sebuah masjid yang bermenara menjulang anggun. Menara itu... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Memasuki bulan Maulid (Rabi’ul Awwal) tahun 1445 Hijriah ini, persiapan untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad... selengkapnya
Seorang jamaah bertanya tentang jihad kepada Buya Yahya, “Bagaimana cara jihad untuk membela saudara kita yang terzalimi di Palestina? Sedangkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada era sekarang ini, banyak sekali kasus kekerasan dan pelecehan yang menimpa kaum wanita, dimulai dari pemerkosaan,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan sebagai upaya penyebaran ilmu agama Islam, Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah. Pada bulan ini terdapat ibadah agung yang disyariatkan... selengkapnya
Makkah Di kejauhan jelajah terbentang luas, Di hati nurani, cinta tak terbatas. Perjalanan ke Makkah, tiada terlukiskan, Dalam... selengkapnya
Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000
Saat ini belum tersedia komentar.