Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Menilik Program Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah

Menilik Program Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah

Diposting pada 24 Juli 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 54 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kehadiran ayah dalam kehidupan anak memang sangatlah penting. Selama ini pengasuhan anak di Indonesia sering kali lebih banyak dibebankan kepada ibu, sementara ayah berperan sebagai pencari nafkah. Akibatnya, banyak anak yang tumbuh dengan kedekatan emosional yang lebih kuat kepada ibu dibandingkan ayahnya. Dalam perspektif psikologi, keterlibatan ayah terbukti berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Anak yang mendapatkan perhatian dari ayah cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, kestabilan emosi yang lebih kuat, dan kemampuan sosial yang lebih sehat. Dari sudut pandang Islam, ayah juga memiliki tanggung jawab pendidikan yang sangat besar terhadap anak-anaknya.

Al-Qur’an bahkan merekam sejumlah dialog pendidikan antara ayah dan anak, seperti nasihat Luqman kepada putranya yang diabadikan dalam Surah Luqman. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak menempatkan ayah sekadar sebagai pencari nafkah, melainkan juga pendidik utama dalam keluarga. Seiring dengan itu, dewasa ini santer diperbincangkan program gerakan mengantar anak ke sekolah yang dimaksudkan untuk memperkuat hubungan emosional ayah dan anak, maka niat tersebut patut diapresiasi. Namun demikian, setiap kebijakan publik seharusnya tidak hanya mempertimbangkan kelompok yang diuntungkan, tetapi juga kelompok yang berpotensi terdampak secara psikologis. Di sinilah program tersebut perlu dikritisi secara konstruktif.

Tidak Semua Anak Memiliki Ayah

Tidak semua keluarga dihuni oleh keluarga yang utuh. Di tengah masyarakat terdapat jutaan anak yang hidup dalam berbagai situasi keluarga yang berbeda. Ada anak yang sudah kehilangan ayah karena meninggal dunia. Ada anak yang menjadi korban perceraian sehingga diasuh oleh ibu tunggal. Ada pula anak yang ayahnya bekerja jauh di luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri sehingga jarang hadir dalam keseharian mereka. Ketika sekolah secara khusus mengampanyekan gerakan ayah mengantar anak, muncul pertanyaan sederhana: bagaimana perasaan anak-anak yang tidak memiliki kesempatan merasakan hal tersebut? Bagi sebagian anak, mungkin tidak menjadi masalah. Namun bagi sebagian lainnya, pengalaman itu dapat menjadi pengingat atas kehilangan yang selama ini berusaha mereka terima.

Bayangkan seorang anak yatim yang melihat hampir seluruh teman sekelasnya datang bersama ayah masing-masing. Atau seorang anak korban perceraian yang setiap hari hanya diantar ibunya. Ketika sekolah memberi penekanan besar pada kehadiran ayah, anak tersebut bisa saja merasa berbeda, merasa kurang beruntung, bahkan merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Hal seperti ini sering kali luput dari perhatian orang dewasa.

Perspektif Psikologi Anak

Dalam psikologi perkembangan, anak memiliki kebutuhan yang kuat untuk merasa diterima dan tidak berbeda dari kelompok sebayanya. Ketika terdapat simbol-simbol sosial yang menonjolkan kondisi keluarga tertentu, anak yang berada di luar kategori tersebut berpotensi mengalami perasaan sedih, malu, iri, atau rendah diri. Psikolog perkembangan Erik Erikson menjelaskan, anak usia sekolah sedang berada pada fase membangun rasa percaya diri dan identitas sosial. Mereka sangat peka terhadap perbandingan dengan teman-teman sebayanya.

Apabila program sekolah tidak dirancang secara inklusif, maka anak-anak yang kehilangan figur ayah dapat mengalami apa yang disebut sebagai social exclusion atau perasaan tersisih dari kelompok. Tentu tidak semua anak akan mengalami dampak yang sama. Namun kebijakan publik idealnya dirancang untuk melindungi kelompok yang paling rentan, bukan hanya mengakomodasi kelompok mayoritas.

Islam dan Sensitivitas terhadap Anak Yatim

Dalam perspektif Islam, keberadaan anak yatim mendapatkan perhatian yang sangat besar.

Al-Qur’an berulang kali memerintahkan umat Islam untuk menjaga perasaan dan hak-hak anak yatim. Bahkan salah satu ciri pendusta agama menurut Surah Al-Ma’un adalah mereka yang mengabaikan anak yatim. Perhatian Islam terhadap anak yatim bukan semata-mata soal bantuan materi. Yang tidak kalah penting adalah perlindungan terhadap kondisi psikologis mereka.

Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasallam sendiri adalah seorang yatim sejak kecil. Karena itu, Islam mengajarkan kepekaan sosial agar anak yatim tidak merasa tersisih atau diperlakukan berbeda dari anak-anak lainnya. Dari sudut pandang ini, setiap program yang melibatkan figur ayah seharusnya juga memikirkan bagaimana perasaan anak-anak yang sudah tidak memiliki ayah.

Dari “Gerakan Ayah” Menjadi “Gerakan Keluarga”

Tujuan utama program ini sesungguhnya adalah memperkuat kedekatan antara anak dan keluarga. Oleh sebab itu, mungkin pendekatan yang lebih inklusif adalah mengubah narasi dari “Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah” menjadi “Gerakan Keluarga Mengantar Anak ke Sekolah.” Dengan pendekatan tersebut, yang mengantar bisa ayah, ibu, kakek, nenek, paman, wali, atau siapa pun yang menjadi figur pengasuh utama anak.

Esensi kebersamaan tetap terjaga tanpa menimbulkan potensi luka psikologis bagi anak-anak yang berasal dari latar belakang keluarga berbeda. Pendekatan semacam ini juga lebih sesuai dengan realitas sosial Indonesia yang sangat beragam. Gerakan ayah mengantar anak ke sekolah merupakan gagasan yang lahir dari niat baik untuk memperkuat keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Tujuan tersebut patut diapresiasi karena sejalan dengan nilai-nilai keluarga dalam Islam maupun temuan psikologi modern. Namun sebuah program publik akan menjadi lebih baik apabila dirancang dengan mempertimbangkan seluruh kelompok masyarakat, termasuk anak yatim, anak korban perceraian, dan anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari.

Kebijakan yang baik bukan hanya mampu membahagiakan sebagian anak, tetapi juga memastikan tidak ada anak lain yang merasa kehilangan, tersisih, atau terluka karenanya. Sebab pada akhirnya, yang perlu dijaga bukan sekadar keterlibatan ayah, melainkan kesehatan psikologis seluruh anak Indonesia.

 

Penulis: Khoirul Umam Sonhadji (Pemerhati Pendidikan, Keluarga, dan Peradaban Islam Kum Nusantara Institut

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Menilik Program Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Islam yang Asing
28 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Islam yang asing merupakan sebuah keniscayaan yang terjadi pada abad ke-21, abad di mana generasi Z, Alfa, dan... selengkapnya

Pendidikan Karakter di Era Digital: Tantangan dan Peluang bagi Generasi Muslim
22 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara hidup manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Di satu sisi,... selengkapnya

Apakah Cuci Darah Membatalkan Puasa?
22 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah... selengkapnya

Beberapa Aturan Tak Tertulis Berikut Harus Ditulis Agar Diingat dan Dilakukan
18 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkan sahabat mendengar aturan yang tak tertulis? Aturan tak tertulis adalah aturan yang menjadi kesepakatan sosial dan... selengkapnya

Prestasi Gemilang: SMAIQu Al-Bahjah Pusat Cirebon Raih Akreditasi Terbaik di Jawa Barat
6 Desember 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pada akhir tahun 2023 ini, SMAIQu Al-Bahjah Pusat Cirebon kembali meraih prestasi gemilang pada acara Ekspose... selengkapnya

Peletakan Batu Pertama Gedung Media Center Al-Bahjah  Sebagai Simbol Kemajuan Dakwah
10 Januari 2022

Peletakan Batu Pertama Gedung Media Center Al-Bahjah  Sebagai Simbol Kemajuan Dakwah Upaya untuk menyebarkan dakwah di tengah-tengah masyarakat tentunya memerlukan... selengkapnya

Gegara Dua Butir Kurma
2 Maret 2024

Oleh: Herry Munhanif Lelaki itu dengan susah payah menempuh perjalanan yang melelahkan selama berbulan-bulan, demi mendapatkan keikhlasan pemilik dua butir... selengkapnya

Patungan Kurban Satu Kambing Oleh Satu Kelas Ternyata Bisa Sah, Begini Caranya
6 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon- Patungan kurban adalah gabungan beberapa orang dalam pengumpulan dana untuk membeli hewan kurban. Umumnya fenomena patungan kurban... selengkapnya

Kehidupan Setelah Kematian
12 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap manusia pasti akan mengalami kematian dan sebagai umat Islam kita meyakini bahwa setelah kematian akan ada... selengkapnya

Bukan Cinta yang Hilang tapi Obrolan yang Terlewat
16 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernikahan bukan sekadar ikatan lahiriah atau cerita happy ending dalam sebuah hubungan, tetapi juga sebuah amanah dan ibadah... selengkapnya

Menilik Program Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: