Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Peran Wanita Tangguh Dibalik Kisah Agung Ibadah Qurban

Peran Wanita Tangguh Dibalik Kisah Agung Ibadah Qurban

Diposting pada 21 Mei 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 19 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita sering mendengar kisah agung disyariatkannya ibadah qurban. Namun tahukan bahwa di balik kisah agung tersebut ada peran besar sosok wanita Muslimah, beliau adalah Sayyidah Hajar. Sayyidah Hajar adalah istri dari Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam sekaligus ibunda dari Nabiyullah Ismail ‘Alaihissalam. Beliau berasal dari kalangan hamba sahaya yang hidup dengan penuh katakwaan, kezuhudan, dan penuh bakti kepada suaminya.

Ujian hidup beliau dimulai saat Sayyidah Hajar baru melahirkan Nabi Ismail ‘Alaihissalam. Suatu hari Nabiyullah Ibrahim mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melakukan perjalanan dari Palestina menuju sebuah lembah tandus, tanpa pepohonan, yang berada di Makkah. Perjalanan itu kemudian ditempuh Sayyidah Hajar dan Nabi Ismail yang masih bayi. Langkah demi langkah dilalui menyusuri luasnya padang pasir. Hingga sampailah di suatu lembah kosong yang tidak ada kehidupan di sekelilingnya.

Setelah sampai di lembah tersebut, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berkata kepada Sayyidah Hajar, “Wahai (Sayyidah) Hajar, engkau harus menetap di sini.” Mendengar perkataan tersebut membuat Sayyidah Hajar terkejut karena merasa tidak mungkin untuk melanjutkan kehidupan di tengah padang pasir yang tandus. Beliau pun bertanya kepada Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam, “Wahai suamiku, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memerintahkan atau ini murni perintahmu?” Lalu Nabiyullah Ibrahim menjawab, “Wahai (Sayyidah) Hajar, Allah yang memerintahkan hal ini.” Setelah mendengar penjelasan dari Nabiyullah Ibrahim beliau menjawab, “Wahai suamiku jika memang ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala maka aku akan terima dan akan aku patuhi dengan penuh ketakwan serta keyakinan. Karena aku yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambanya meskipun berada di padang pasir yang tandus sekali pun.” Setelah percakapan tersebut Nabiyullah Ibrahim menaiki untanya dan bersiap untuk meninggalkan Sayyidah Hajar dan putranya yang masih bayi. Dengan berat hati Nabiyullah Ibrahim berjalan meninggalkan mereka.

Pada suatu hari (Nabi) Ismail kecil menangis meminta air susu. Akan tetapi air susu yang dimiliki Sayyidah Hajar tidak mampu memenuhi rasa raus bayi kecilnya. Hal itu dikarenakan Sayyidah Hajar belum minum dan kehausan sehingga air susunya tidak keluar. Sayyidah Hajar pun mencari air dengan naik ke sebuah bukit berharap akan menemukan setetes air untuk menghidupi anaknya yang masih bayi. Beliau terus mencari air di sekelilingnya sambil berlari-lari kecil dari bukit satu ke bukit. Namun yang ditemukan hanyalah fatamorgana.

Akan tetapi dalam keadaan mencekam sekali pun beliau tidak pernah mengeluh. Sayyidah Hajar hanya pasrah dan berserah diri serta berdamai dengan apa yang ada di sekelilingnya. Di sisa-sisa kelelahan itu, Sayyidah Hajar diberikan kabar gembira oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu munculnya air dari bawah tanah yang tandus sebagai pertolongan atas usaha yang dilakukannya. Betapa bahagianya Sayyidah Hajar saat melihat ada tetesan air tersebut. Dibendunglah air tersebut dengan bebatuan yang ada di sekelilingnya agar air tersebut dapat digunakan dan tidak habis diserap panasnya padang pasir. Lalu beliau segera meminumnya sambil berharap air susunya kembali normal sehingga putra kecilnya bisa menyusu.

Diangkatlah (Nabi) Ismail kecil ke pangkuannya lalu menyodorkan air susunya. Namun ternyata tidak masuk ke dalam mulutnya, karena kondisi (Nabi) Ismail kecil yang hampir kehilangan nyawa saking kehausan. Setelah berkali-kali beliau mencoba memasukkan air susu ke dalam mulutnya, akhirnya air susu tersebut masuk juga ke dalam mulut putra kecilnya.

Bulan demi bulan berlalu, air tersebut masih terus subur keluar sehingga sangat berguna bagi Sayyidah Hajar dan putra kecilnya. Pada akhirnya air tersebut menjadi sumber kehidupan dan mulailah ada pemukiman di kawasan tersebut. Bahkan air tersebut dapat mencukupi beberapa rombongan kafilah yang melintasi kawasan tersebut.

Tahun demi tahun berlalu Ismail kecil tumbuh dengan penuh kasih sayang sang ibunda. Sampai akhirnya usia (Nabi) Ismail menginjak tamyiz, ayahnya Nabiyullah Ibrahim datang untuk betemu melepas rindu setelah berpisah beberapa tahun silam menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Ibrahim adalah orang yang pasrah dan sangat patuh kepada Allah.

Pada kisah berikutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengangkat derajat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dengan memberikan ujian yang sangat berat, yaitu menyembelih anaknya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berkata Sayyidina Ibrahim kepada putranya yang sangat dicintainya itu, “Wahai Ismail, aku diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembelihmu.” (Nabi) Ismail lalu menjawabnya, “Laksanakanlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya engkau akan menemukanku bersama orang-orang yang bersabar.” Tak lama kemudian dibawalah Nabi Ismail ke suatu tempat yang jauh dari sang ibunda. Sebelum menyembelih Nabi Ismail pun memberikan pesan untuk ayahnya agar menjauhkan bajunya supaya tidak terkena percikan darah. Nabi Ismail juga meminta untuk mengasah pisaunya terlebih dahulu agar memudahkan dalam proses penyembelihan. Serta tak lupa berwasiat salam takdzimnya kepada sang ibunda tercinta.

Dari kisah singkat ini mari belajar untuk menjadi wanita yang tangguh, sabar yang berfondasikan ketakwaan. Tak mudah goyah dalam menjalani kehidupan sambil disertai dengan penuh keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambanya. Mari belajar menjadi wanita yang patuh terhadap suami, menjadi anak yang salehah, taat, dan berbakti. Mari di momentum Iduladha ini sama-sama belajar untuk dapat mengambil hikmah dari keluarga Nabiyullah Ibrahim Alaihissalam.

 

Penulis: Kodriya

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Peran Wanita Tangguh Dibalik Kisah Agung Ibadah Qurban

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Telah Dibuka Kesempatan Emas Menjadi Pejuang Rasulullah!
1 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah kembali membuka kesempatan dan peluang kepada anda untuk berjuang bersama kami dalam menebarkan risalah dakwah Rasulullah Saw. Pustaka... selengkapnya

Tidak Merasakan Vibes Nya Ramadhan? Jangan-Jangan Karena Ini
2 April 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat Pustaka, bulan Ramadhan merupakan bulan panen raya hamba-hamba terkasih Allah Swt karena pada bulan ini... selengkapnya

PROMO PAHALA JUM’AT BERKAH BERSAMA LPD AL-BAHJAH
13 Februari 2020

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sahabat Infaq Center Al-Bahjah ☺ Semoga Bapak/Ibu/Saudara/Saudari selalu dalam keadaan sehat walafiat dan selalu dalam lindungan Allah SWT,... selengkapnya

Ayo Belajar Shalat
29 Maret 2024

Judul Buku      : Silsilah Fiqih Praktis Shalat Penulis             : Buya Yahya Penerbit           : Pustaka Al-Bahjah Tebal Buku      : 156 Halaman... selengkapnya

Kenapa Penetapan Awal Ramadan dan Syawal Kerap Berbeda?
11 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ada dua metode paling populer untuk menentukan awal bulan Hijriyah, yakni rukyat dan hisab. Perbedaan metode ini... selengkapnya

Rambu-Rambu dalam Menyikapi Berita Miring Seorang Publik Figur
19 Maret 2021

Rambu-Rambu dalam Menyikapi Berita Miring Seorang Publik Figur Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)... selengkapnya

Suami Sudah Tidak Mampu Mencari Nafkah? Istri Cerdas Wajib Paham
20 Oktober 2022

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri dan keluarganya. Maksud dari kewajiban ini adalah... selengkapnya

Benarkah Menjadikan Pakaian Bekas sebagai Lap Bisa Menyempitkan Rezeki?
20 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebagian masyarakat, terdapat anggapan bahwa menggunakan pakaian bekas sebagai kain lap dapat menyempitkan rezeki. Di antaranya menyebutnya... selengkapnya

Mimpi Bertemu Nabi (Sebuah Kebanggaan yang Tak Bisa Diungkapkan)
18 Maret 2021

             Mimpi Bertemu Nabi (Sebuah Kebanggaan yang Tak Bisa Diungkapkan) Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD... selengkapnya

Puisi-Puisi Seruni Unie
23 Maret 2024

Stasiun   Tak ada pelukan Juga cium pipi Tanda perpisahan   Hanya kepal tangan bersentuh Dengan tatap mata luruh :... selengkapnya

Peran Wanita Tangguh Dibalik Kisah Agung Ibadah Qurban

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: