● online
- Kitab Bidayatul Wushul 1....
- English Practice "Practice Makes Perfect" Beginner....
- RAMADHANIAT....
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Kekhalifahan, Keluarga Na....
- Silsilah Fiqih Praktis Jenazah....
- Buku Aqidah - Hadits Jibril....
- Sam'iyyat - Beriman Kepada yang Gaib....
- Oase Iman - Refleksi Problematika Umat....
Peran Wanita Tangguh Dibalik Kisah Agung Ibadah Qurban

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita sering mendengar kisah agung disyariatkannya ibadah qurban. Namun tahukan bahwa di balik kisah agung tersebut ada peran besar sosok wanita Muslimah, beliau adalah Sayyidah Hajar. Sayyidah Hajar adalah istri dari Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam sekaligus ibunda dari Nabiyullah Ismail ‘Alaihissalam. Beliau berasal dari kalangan hamba sahaya yang hidup dengan penuh katakwaan, kezuhudan, dan penuh bakti kepada suaminya.
Ujian hidup beliau dimulai saat Sayyidah Hajar baru melahirkan Nabi Ismail ‘Alaihissalam. Suatu hari Nabiyullah Ibrahim mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melakukan perjalanan dari Palestina menuju sebuah lembah tandus, tanpa pepohonan, yang berada di Makkah. Perjalanan itu kemudian ditempuh Sayyidah Hajar dan Nabi Ismail yang masih bayi. Langkah demi langkah dilalui menyusuri luasnya padang pasir. Hingga sampailah di suatu lembah kosong yang tidak ada kehidupan di sekelilingnya.
Setelah sampai di lembah tersebut, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berkata kepada Sayyidah Hajar, “Wahai (Sayyidah) Hajar, engkau harus menetap di sini.” Mendengar perkataan tersebut membuat Sayyidah Hajar terkejut karena merasa tidak mungkin untuk melanjutkan kehidupan di tengah padang pasir yang tandus. Beliau pun bertanya kepada Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam, “Wahai suamiku, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memerintahkan atau ini murni perintahmu?” Lalu Nabiyullah Ibrahim menjawab, “Wahai (Sayyidah) Hajar, Allah yang memerintahkan hal ini.” Setelah mendengar penjelasan dari Nabiyullah Ibrahim beliau menjawab, “Wahai suamiku jika memang ini adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala maka aku akan terima dan akan aku patuhi dengan penuh ketakwan serta keyakinan. Karena aku yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambanya meskipun berada di padang pasir yang tandus sekali pun.” Setelah percakapan tersebut Nabiyullah Ibrahim menaiki untanya dan bersiap untuk meninggalkan Sayyidah Hajar dan putranya yang masih bayi. Dengan berat hati Nabiyullah Ibrahim berjalan meninggalkan mereka.
Pada suatu hari (Nabi) Ismail kecil menangis meminta air susu. Akan tetapi air susu yang dimiliki Sayyidah Hajar tidak mampu memenuhi rasa raus bayi kecilnya. Hal itu dikarenakan Sayyidah Hajar belum minum dan kehausan sehingga air susunya tidak keluar. Sayyidah Hajar pun mencari air dengan naik ke sebuah bukit berharap akan menemukan setetes air untuk menghidupi anaknya yang masih bayi. Beliau terus mencari air di sekelilingnya sambil berlari-lari kecil dari bukit satu ke bukit. Namun yang ditemukan hanyalah fatamorgana.
Akan tetapi dalam keadaan mencekam sekali pun beliau tidak pernah mengeluh. Sayyidah Hajar hanya pasrah dan berserah diri serta berdamai dengan apa yang ada di sekelilingnya. Di sisa-sisa kelelahan itu, Sayyidah Hajar diberikan kabar gembira oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu munculnya air dari bawah tanah yang tandus sebagai pertolongan atas usaha yang dilakukannya. Betapa bahagianya Sayyidah Hajar saat melihat ada tetesan air tersebut. Dibendunglah air tersebut dengan bebatuan yang ada di sekelilingnya agar air tersebut dapat digunakan dan tidak habis diserap panasnya padang pasir. Lalu beliau segera meminumnya sambil berharap air susunya kembali normal sehingga putra kecilnya bisa menyusu.
Diangkatlah (Nabi) Ismail kecil ke pangkuannya lalu menyodorkan air susunya. Namun ternyata tidak masuk ke dalam mulutnya, karena kondisi (Nabi) Ismail kecil yang hampir kehilangan nyawa saking kehausan. Setelah berkali-kali beliau mencoba memasukkan air susu ke dalam mulutnya, akhirnya air susu tersebut masuk juga ke dalam mulut putra kecilnya.
Bulan demi bulan berlalu, air tersebut masih terus subur keluar sehingga sangat berguna bagi Sayyidah Hajar dan putra kecilnya. Pada akhirnya air tersebut menjadi sumber kehidupan dan mulailah ada pemukiman di kawasan tersebut. Bahkan air tersebut dapat mencukupi beberapa rombongan kafilah yang melintasi kawasan tersebut.
Tahun demi tahun berlalu Ismail kecil tumbuh dengan penuh kasih sayang sang ibunda. Sampai akhirnya usia (Nabi) Ismail menginjak tamyiz, ayahnya Nabiyullah Ibrahim datang untuk betemu melepas rindu setelah berpisah beberapa tahun silam menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Ibrahim adalah orang yang pasrah dan sangat patuh kepada Allah.
Pada kisah berikutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengangkat derajat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dengan memberikan ujian yang sangat berat, yaitu menyembelih anaknya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berkata Sayyidina Ibrahim kepada putranya yang sangat dicintainya itu, “Wahai Ismail, aku diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembelihmu.” (Nabi) Ismail lalu menjawabnya, “Laksanakanlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya engkau akan menemukanku bersama orang-orang yang bersabar.” Tak lama kemudian dibawalah Nabi Ismail ke suatu tempat yang jauh dari sang ibunda. Sebelum menyembelih Nabi Ismail pun memberikan pesan untuk ayahnya agar menjauhkan bajunya supaya tidak terkena percikan darah. Nabi Ismail juga meminta untuk mengasah pisaunya terlebih dahulu agar memudahkan dalam proses penyembelihan. Serta tak lupa berwasiat salam takdzimnya kepada sang ibunda tercinta.
Dari kisah singkat ini mari belajar untuk menjadi wanita yang tangguh, sabar yang berfondasikan ketakwaan. Tak mudah goyah dalam menjalani kehidupan sambil disertai dengan penuh keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hambanya. Mari belajar menjadi wanita yang patuh terhadap suami, menjadi anak yang salehah, taat, dan berbakti. Mari di momentum Iduladha ini sama-sama belajar untuk dapat mengambil hikmah dari keluarga Nabiyullah Ibrahim Alaihissalam.
Penulis: Kodriya
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Peran Wanita Tangguh Dibalik Kisah Agung Ibadah Qurban
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sering kali muncul pertanyaan mengenai prioritas kepatuhan seorang istri dalam sebuah rumah tangga; apakah harus mendahulukan suami... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Islam memiliki banyak peristiwa penting yang berperan dalam perkembangan agama, salah satunya peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada malam... selengkapnya
Dalam rangka mewujudkan visi Al-Bahjah untuk membangun masyarakat berakhlak mulia, bersendikan Al-Qur’an dan Sunnah, LPD Al-Bahjah terus melebarkan sayap perjuangan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Nuzulul Quran merupakan peristiwa turunnya Al-Quran. Buya Yahya menjelaskan bahwa terdapat empat macam Nuzulul Quran, yakni... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tanpa terasa waktu semakin cepat berlalu, menyisakan harapan dan tujuan yang belum sempat dicapai. Harapan yang seharusnya terwujud... selengkapnya
Oleh: Sayyid Hasan Syafiq Shahab Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pada dasarnya, siapapun yang mempunyai hak milik atas suatu barang, maka... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setelah berusaha dengan maksimal tapi belum menghasilkan sesuatu yang diharapkan, maka jalani dan syukuri saja. Sebab, hidup tidak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Fenomena wanita karir akhir-akhir ini menjadi hal yang lumrah terjadi di masyarakat. Wanita karir sendiri diistilahkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebahagiaan adalah harapan setiap manusia. Akan tetapi, kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari kesenangan dan keberhasilan di dunia,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Peran muslimah dalam sejarah peradaban Islam selalu menempati posisi istimewa. Islam tidak pernah memandang perempuan sebagai sekadar pelengkap,... selengkapnya
Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000
Saat ini belum tersedia komentar.