● online
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Lahir Sampai Diutus ....
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan....
- Oase Iman - Refleksi Problematika Umat....
- العدد والمعدود....
- Kitab Taqlid Wa Talfiq....
- English Practice "Practice Makes Perfect" Beginner....
- AQIDAH 50 KARYA BUYA YAHYA....
- المعين المبين في تعلم العرب....
Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak peran manusia, dan ruang digital menjelma panggung utama kehidupan sosial. Namun di balik semua kemajuan itu, muncul gejala yang mengkhawatirkan: manusia semakin cemas, mudah marah, kesepian, dan kehilangan arah hidup. Ironisnya, di tengah kecanggihan yang dijanjikan membawa kemudahan, justru banyak orang merasa kosong secara batin. Pertanyaannya, bisa seperti itu?
Secara filosofis, problem utama masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan pada krisis makna. Manusia modern mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu memahami untuk apa ia hidup. Ia sibuk membangun apa dan bagaimana, tetapi lupa bertanya mengapa. Dalam konteks ini, teknologi tidak netral. Ia membentuk cara berpikir, memengaruhi relasi sosial, bahkan menentukan bagaimana manusia memaknai dirinya sendiri. Ketika manusia direduksi menjadi angka, data, dan performa, maka nilai-nilai kemanusiaan perlahan tersingkir.
Fenomena ini sejatinya telah lama diperingatkan oleh para pemikir Muslim klasik. Abu Hamid al-Ghazali mengkritik manusia yang terlalu larut dalam aspek lahiriah hingga melupakan penyucian batin. Baginya, ilmu dan kecakapan yang tidak diiringi kesadaran spiritual hanya akan melahirkan kesombongan baru. Dalam konteks hari ini, teknologi yang tidak dibimbing oleh etika dan tujuan transenden berpotensi menjadikan manusia kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri.
Di ruang digital, relasi antarmanusia semakin dangkal. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan, tetapi sering menghilangkan kedalaman. Orang saling berinteraksi tanpa benar-benar berjumpa, saling berpendapat tanpa saling mendengar, dan saling menilai tanpa empati. Dari sudut pandang filsafat sosial Islam, kondisi ini berbahaya. Ibn Khaldun menegaskan bahwa peradaban hanya dapat bertahan jika solidaritas sosial (‘ashabiyyah) dijaga. Ketika relasi sosial rapuh dan dipenuhi konflik ego, maka kemunduran peradaban tinggal menunggu waktu.
Lebih jauh, krisis makna ini juga berdampak pada kehidupan beragama. Agama berisiko direduksi menjadi simbol, identitas, atau konten digital, bukan lagi jalan transformasi diri. Ibadah dilakukan, tetapi tidak selalu melahirkan kepekaan sosial. Diskursus keagamaan ramai, tetapi sering miskin kebijaksanaan. Di sinilah relevansi filsafat Islam kembali mengemuka. Al-Farabi memandang bahwa tujuan tertinggi masyarakat adalah kebahagiaan sejati (al-sa‘adah), yaitu kebahagiaan yang lahir dari keselarasan akal, etika, dan tujuan hidup. Tanpa orientasi ini, kemajuan hanya akan menghasilkan kelelahan kolektif.
Opini ini tidak bermaksud menolak teknologi atau kemajuan. Justru sebaliknya, yang dipersoalkan adalah absennya refleksi filosofis dan spiritual dalam mengelola kemajuan tersebut. Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tujuan. Ketika alat berubah menjadi penentu nilai, manusia kehilangan kebebasan sejatinya. Di titik inilah agama dan filsafat perlu kembali dihadirkan, bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai kompas moral dan eksistensial.
Akhirnya, isu kecanggihan teknologi harus dibaca bukan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan. Kita perlu bertanya kembali: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk? Peradaban seperti apa yang ingin kita wariskan? Tanpa pertanyaan filosofis semacam ini, masyarakat akan terus bergerak cepat, tetapi tanpa arah. Dan mungkin, inilah tantangan terbesar zaman kita; bukan kekurangan inovasi, melainkan kekurangan kebijaksanaan.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Wajah moral anak bangsa belakangan ini tampaknya kian bopeng. Banyak pemberitaan yang membuat kita menitikkan air mata.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bulan Rajab sering kali hadir menyapa kita dengan suasana yang tenang namun penuh wibawa. Di tengah deru kehidupan... selengkapnya
Judul Buku : Thaharah: Risalah Praktis dan Ringkas Menguraikan tentang Thaharah (Bersuci) sebagai Syarat Sah dalam Beribadah Penulis : Buya... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada saat ini teknologi terus berkembang pesat seiring berkembangnya zaman. Negara-negara maju terus bersaing dalam menciptakan teknologi yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Anak adalah salah satu titipan Allah Swt yang paling berharga. Mereka adalah amanah yang harus kita jaga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Keceriaan memiliki peran penting dalam kehidupan, bahkan di tengah kesulitan. Tampil ceria adalah salah satu bentuk syukur... selengkapnya
Menebar Jaring-Jaring Dakwah Buku Buya Yahya Menjawab Jilid 1 Kini Tersedia di Gramedia Jabodetabek PUSTAKA AL-BAHJAH-NEWS FLASH-Tim pemasaran Pustaka Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Manhaj dalam bahasa Arab, berarti jalan atau metode. Dalam konteks Islam merujuk pada metode memahami dan mengamalkan ajaran... selengkapnya
Aku tak menyangka jika kegemaranku bermain di perpustakaan umum dekat tempat tinggalku dapat mengantarkanku ke menara gading. Sungguh itu di... selengkapnya
BANTU AKU Dibutuhkan seluruh jiwa untuk memahami bahwa labuhan hati adalah mengerti hadir-Mu di setiap langkah hari seperti... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000 Rp 95.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000
Saat ini belum tersedia komentar.