Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Diposting pada 8 Mei 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 96 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak peran manusia, dan ruang digital menjelma panggung utama kehidupan sosial. Namun di balik semua kemajuan itu, muncul gejala yang mengkhawatirkan: manusia semakin cemas, mudah marah, kesepian, dan kehilangan arah hidup. Ironisnya, di tengah kecanggihan yang dijanjikan membawa kemudahan, justru banyak orang merasa kosong secara batin. Pertanyaannya, bisa seperti itu?

Secara filosofis, problem utama masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan pada krisis makna. Manusia modern mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu memahami untuk apa ia hidup. Ia sibuk membangun apa dan bagaimana, tetapi lupa bertanya mengapa. Dalam konteks ini, teknologi tidak netral. Ia membentuk cara berpikir, memengaruhi relasi sosial, bahkan menentukan bagaimana manusia memaknai dirinya sendiri. Ketika manusia direduksi menjadi angka, data, dan performa, maka nilai-nilai kemanusiaan perlahan tersingkir.

Fenomena ini sejatinya telah lama diperingatkan oleh para pemikir Muslim klasik. Abu Hamid al-Ghazali mengkritik manusia yang terlalu larut dalam aspek lahiriah hingga melupakan penyucian batin. Baginya, ilmu dan kecakapan yang tidak diiringi kesadaran spiritual hanya akan melahirkan kesombongan baru. Dalam konteks hari ini, teknologi yang tidak dibimbing oleh etika dan tujuan transenden berpotensi menjadikan manusia kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri.

Di ruang digital, relasi antarmanusia semakin dangkal. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan, tetapi sering menghilangkan kedalaman. Orang saling berinteraksi tanpa benar-benar berjumpa, saling berpendapat tanpa saling mendengar, dan saling menilai tanpa empati. Dari sudut pandang filsafat sosial Islam, kondisi ini berbahaya. Ibn Khaldun menegaskan bahwa peradaban hanya dapat bertahan jika solidaritas sosial (‘ashabiyyah) dijaga. Ketika relasi sosial rapuh dan dipenuhi konflik ego, maka kemunduran peradaban tinggal menunggu waktu.

Lebih jauh, krisis makna ini juga berdampak pada kehidupan beragama. Agama berisiko direduksi menjadi simbol, identitas, atau konten digital, bukan lagi jalan transformasi diri. Ibadah dilakukan, tetapi tidak selalu melahirkan kepekaan sosial. Diskursus keagamaan ramai, tetapi sering miskin kebijaksanaan. Di sinilah relevansi filsafat Islam kembali mengemuka. Al-Farabi memandang bahwa tujuan tertinggi masyarakat adalah kebahagiaan sejati (al-sa‘adah), yaitu kebahagiaan yang lahir dari keselarasan akal, etika, dan tujuan hidup. Tanpa orientasi ini, kemajuan hanya akan menghasilkan kelelahan kolektif.

Opini ini tidak bermaksud menolak teknologi atau kemajuan. Justru sebaliknya, yang dipersoalkan adalah absennya refleksi filosofis dan spiritual dalam mengelola kemajuan tersebut. Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tujuan. Ketika alat berubah menjadi penentu nilai, manusia kehilangan kebebasan sejatinya. Di titik inilah agama dan filsafat perlu kembali dihadirkan, bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai kompas moral dan eksistensial.

Akhirnya, isu kecanggihan teknologi harus dibaca bukan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan. Kita perlu bertanya kembali: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk? Peradaban seperti apa yang ingin kita wariskan? Tanpa pertanyaan filosofis semacam ini, masyarakat akan terus bergerak cepat, tetapi tanpa arah. Dan mungkin, inilah tantangan terbesar zaman kita; bukan kekurangan inovasi, melainkan kekurangan kebijaksanaan.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

 

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Problem Moral dan Masa Depan Bangsa
19 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Wajah moral anak bangsa belakangan ini tampaknya kian bopeng. Banyak pemberitaan yang membuat kita menitikkan air mata.... selengkapnya

Memungut Hikmah di Bulan Rajab: Perjalanan dari Akal menuju Hati
31 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bulan Rajab sering kali hadir menyapa kita dengan suasana yang tenang namun penuh wibawa. Di tengah deru kehidupan... selengkapnya

Pentingnya Thaharah dalam Beribadah
8 Maret 2024

Judul Buku     : Thaharah: Risalah Praktis dan Ringkas Menguraikan tentang Thaharah (Bersuci) sebagai Syarat Sah dalam Beribadah Penulis             : Buya... selengkapnya

Keterampilan Sains sebagai Bekal Anak dalam Menghadapi Tantangan Zaman
2 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada saat ini teknologi terus berkembang pesat seiring berkembangnya zaman. Negara-negara maju terus bersaing dalam menciptakan teknologi yang... selengkapnya

Cara Mendidik Anak sebagai Investasi Dunia dan Akhirat
21 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Anak adalah salah satu titipan Allah Swt yang paling berharga. Mereka adalah amanah yang harus kita jaga... selengkapnya

Keceriaan, Rahasia di Balik Setiap Senyuman
17 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Keceriaan memiliki peran penting dalam kehidupan, bahkan di tengah kesulitan. Tampil ceria adalah salah satu bentuk syukur... selengkapnya

Menebar Jaring-Jaring Dakwah Buku Buya Yahya Menjawab Jilid 1 Kini Tersedia di Gramedia Jabodetabek
4 November 2021

Menebar Jaring-Jaring Dakwah Buku Buya Yahya Menjawab Jilid 1 Kini Tersedia di Gramedia Jabodetabek PUSTAKA AL-BAHJAH-NEWS FLASH-Tim pemasaran Pustaka Al-Bahjah... selengkapnya

Menyelami Manhaj sebagai Cahaya Dakwah dan Penebar Hikmah
28 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Manhaj dalam bahasa Arab, berarti jalan atau metode. Dalam konteks Islam merujuk pada metode memahami dan mengamalkan ajaran... selengkapnya

Seruni: Kejujuran di Tepi Jalan
30 Maret 2024

Aku tak menyangka jika kegemaranku bermain di perpustakaan umum dekat tempat tinggalku dapat mengantarkanku ke menara gading. Sungguh itu di... selengkapnya

Puisi-Puisi Aksa Sagara
20 November 2024

  BANTU AKU   Dibutuhkan seluruh jiwa untuk memahami bahwa labuhan hati adalah mengerti hadir-Mu di setiap langkah hari seperti... selengkapnya

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: