Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Diposting pada 8 Mei 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 25 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak peran manusia, dan ruang digital menjelma panggung utama kehidupan sosial. Namun di balik semua kemajuan itu, muncul gejala yang mengkhawatirkan: manusia semakin cemas, mudah marah, kesepian, dan kehilangan arah hidup. Ironisnya, di tengah kecanggihan yang dijanjikan membawa kemudahan, justru banyak orang merasa kosong secara batin. Pertanyaannya, bisa seperti itu?

Secara filosofis, problem utama masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan pada krisis makna. Manusia modern mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu memahami untuk apa ia hidup. Ia sibuk membangun apa dan bagaimana, tetapi lupa bertanya mengapa. Dalam konteks ini, teknologi tidak netral. Ia membentuk cara berpikir, memengaruhi relasi sosial, bahkan menentukan bagaimana manusia memaknai dirinya sendiri. Ketika manusia direduksi menjadi angka, data, dan performa, maka nilai-nilai kemanusiaan perlahan tersingkir.

Fenomena ini sejatinya telah lama diperingatkan oleh para pemikir Muslim klasik. Abu Hamid al-Ghazali mengkritik manusia yang terlalu larut dalam aspek lahiriah hingga melupakan penyucian batin. Baginya, ilmu dan kecakapan yang tidak diiringi kesadaran spiritual hanya akan melahirkan kesombongan baru. Dalam konteks hari ini, teknologi yang tidak dibimbing oleh etika dan tujuan transenden berpotensi menjadikan manusia kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri.

Di ruang digital, relasi antarmanusia semakin dangkal. Media sosial menciptakan ilusi kedekatan, tetapi sering menghilangkan kedalaman. Orang saling berinteraksi tanpa benar-benar berjumpa, saling berpendapat tanpa saling mendengar, dan saling menilai tanpa empati. Dari sudut pandang filsafat sosial Islam, kondisi ini berbahaya. Ibn Khaldun menegaskan bahwa peradaban hanya dapat bertahan jika solidaritas sosial (‘ashabiyyah) dijaga. Ketika relasi sosial rapuh dan dipenuhi konflik ego, maka kemunduran peradaban tinggal menunggu waktu.

Lebih jauh, krisis makna ini juga berdampak pada kehidupan beragama. Agama berisiko direduksi menjadi simbol, identitas, atau konten digital, bukan lagi jalan transformasi diri. Ibadah dilakukan, tetapi tidak selalu melahirkan kepekaan sosial. Diskursus keagamaan ramai, tetapi sering miskin kebijaksanaan. Di sinilah relevansi filsafat Islam kembali mengemuka. Al-Farabi memandang bahwa tujuan tertinggi masyarakat adalah kebahagiaan sejati (al-sa‘adah), yaitu kebahagiaan yang lahir dari keselarasan akal, etika, dan tujuan hidup. Tanpa orientasi ini, kemajuan hanya akan menghasilkan kelelahan kolektif.

Opini ini tidak bermaksud menolak teknologi atau kemajuan. Justru sebaliknya, yang dipersoalkan adalah absennya refleksi filosofis dan spiritual dalam mengelola kemajuan tersebut. Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tujuan. Ketika alat berubah menjadi penentu nilai, manusia kehilangan kebebasan sejatinya. Di titik inilah agama dan filsafat perlu kembali dihadirkan, bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai kompas moral dan eksistensial.

Akhirnya, isu kecanggihan teknologi harus dibaca bukan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan. Kita perlu bertanya kembali: manusia seperti apa yang ingin kita bentuk? Peradaban seperti apa yang ingin kita wariskan? Tanpa pertanyaan filosofis semacam ini, masyarakat akan terus bergerak cepat, tetapi tanpa arah. Dan mungkin, inilah tantangan terbesar zaman kita; bukan kekurangan inovasi, melainkan kekurangan kebijaksanaan.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

 

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Saat Kontak Mata Hilang, Makna Pembicaraan Terbuang
6 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejak manusia mengenal istilah saling menyapa dalam sejarah peradaban, kontak mata atau tatap muka menjadi hal yang bermakna... selengkapnya

Banyak Yang Menikah di Bulan Syawal, Adakah Ketentuan Waktu Khusus untuk Menikah?
3 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Syawal adalah bulan yang identik dengan pernikahan. Banyak diantara umat Islam yang melangsungkan pernikahan pada... selengkapnya

Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola
20 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah kita menyadari bahwa yang bisa asing itu bukanlah semata persahabatan, keakraban, atau perkenalan, melainkan diri kita... selengkapnya

Jangan Menjadi Kufur Karena Satu Nikmat yang Terlepas
27 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernahkah kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk dunia dan merenung: mengapa di zaman yang serba instan ini, justru kesehatan... selengkapnya

Membaca Adalah Modal: Teknik Dasar Menulis Artikel Jurnalistik untuk Pemula
5 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sering kita jumpai tulisan di media massa yang penulisnya tidak memiliki latar belakang bahasa atau jurnalistik. Mengapa bisa... selengkapnya

Suami Sudah Tidak Mampu Mencari Nafkah? Istri Cerdas Wajib Paham
20 Oktober 2022

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri dan keluarganya. Maksud dari kewajiban ini adalah... selengkapnya

Anda Gemar Membaca? Berikut Tips di Saat Membaca
30 Maret 2021

Anda Gemar Membaca? Berikut Tips di Saat Membaca Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)... selengkapnya

Bagaimanakah Perayaan Halloween Dalam Pandangan Islam?
11 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita perayaan Hallowen di Arab Saudi yang notabene merupakan negara Islam.... selengkapnya

Amalan Ini Sederhana tapi Benilai Luar Biasa
14 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika mendengar kata ibadah, hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran orang awam mungkin adalah suatu amalan... selengkapnya

Muncul Keyakinan di Masyarakat Bulan Dzulqa’dah (Kapit) adalah Bulan Sial, Benarkah?
24 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat ini kita telah memasuki bulan Dzulqa’dah. Bulan Dzulqa’dah yang merupakan bulan ke-11 dalam kalender Islam... selengkapnya

Di Tengah Kecanggihan, Mengapa Manusia Justru Kehilangan Arah?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: