Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » (Cerpen) Di Antara Titik dan Koma

(Cerpen) Di Antara Titik dan Koma

Diposting pada 17 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 238 kali / Kategori:

HUJAN turun pelan sejak sore, seperti sengaja menunda reda. Tidak deras, tidak pula berhenti. Butirannya jatuh satu-satu di atas atap seng rumah Faris, menimbulkan suara berirama yang samar cukup untuk didengar, terlalu lembut untuk diabaikan. Dari balik jendela, Faris memandang ke luar tanpa benar-benar memperhatikan apa pun. Matanya terbuka, tapi pikirannya jauh.

Rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi sejak ayahnya meninggal. Selalu ada suara—langkah kaki ibu di dapur, napas adik-adiknya saat tidur, atau televisi tetangga yang terdengar samar. Namun bagi Faris, kesunyian bukan soal bunyi. Kesunyian adalah ketika tidak ada lagi tempat bertanya, tidak ada lagi suara yang memberi arah, dan tidak ada lagi figur yang dulu berdiri paling depan saat hidup terasa terlalu berat.

Di ruang tengah, terhampar sajadah lama berwarna hijau pudar. Sudutnya sedikit terkelupas, benangnya mulai longgar, dan warnanya tidak lagi secerah dulu. Namun Faris tidak pernah berniat menggantinya. Di situlah ayahnya biasa berdiri setiap Subuh, meluruskan niat sebelum meluruskan punggung. Di situlah ibunya dahulu berlama-lama setelah shalat, mengangkat tangan dengan doa yang panjang dan lirih. Kini, sajadah itu menjadi tempat Faris menata ulang dirinya atau setidaknya sebagai tempat mencoba.

Ia duduk bersila di atas sajadah, tasbih berada di tangan kanan. Butirannya terhenti di angka yang sama sejak beberapa menit lalu. Faris sadar ia berhenti berdzikir, tapi ia tidak memaksakan diri melanjutkan. Ada saat-saat ketika lisan bisa bergerak, tetapi hati tertinggal di belakang. Dan malam ini, hatinya sedang tertahan.

Sejak ayahnya pergi, hidup Faris terasa seperti kalimat yang kehilangan tanda baca. Semua kata berdesakan, tidak rapi, dan sulit dipahami. Dulu hidupnya berjalan dengan urutan yang jelas: kuliah, lulus, bekerja, membantu keluarga. Sekarang urutan itu berantakan. Yang tersisa hanya kewajiban-kewajiban yang datang lebih cepat daripada kesiapan. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk. “Astaghfirullah,” gumamnya pelan, bukan kesadaran akan dosa, tetapi karena pikirannya mulai lelah.

Ayah Faris meninggal tanpa banyak tanda. Pagi itu masih sempat menegur Faris karena bangun kesiangan. Suaranya biasa saja, tidak keras, tidak marah. “Jangan biasakan Subuh kesiangan,” katanya. Faris hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.

Siang harinya, ayah mengeluh dadanya sesak. Sore menjelang Magrib, ambulans datang. Dan malam itu, rumah Faris dipenuhi orang-orang dengan wajah serius dan suara berbisik. Ayahnya terbaring diam di ruang tamu, tubuhnya tertutup kain putih. Dunia tidak runtuh. Langit tidak pecah. Namun sesuatu dalam diri Faris patah—pelan, tanpa suara.

Pemakaman berlangsung sederhana. Tangisan ibunya tertahan, adik-adiknya masih terlalu kecil untuk mengerti, dan Faris berdiri kaku di dekat liang lahat. Saat tanah mulai ditimbunkan, Faris baru menyadari satu hal yang menghantam dadanya lebih keras dari kehilangan itu sendiri: mulai hari ini, ia sendirian di barisan depan.

Hari-hari setelahnya berjalan cepat dan lambat sekaligus. Cepat karena tuntutan hidup tidak memberi waktu berduka. Lambat karena setiap sudut rumah mengingatkannya pada ayah. Kursi kosong di ruang tamu. Gelas teh yang tak lagi disentuh. Sajadah yang kini tak lagi digunakan orang yang dulu paling ia andalkan.

Faris mencoba melanjutkan kuliah sambil bekerja. Ia bekerja di warung fotokopi, mengantar barang, melakukan apa saja yang bisa dilakukan oleh tenaga muda dengan upah pas-pasan. Namun realitas tak bisa dinegosiasikan. Biaya kuliah menunggak. Ibu jatuh sakit karena kelelahan. Adik bungsunya hampir dikeluarkan dari sekolah.

Keputusan itu akhirnya datang bukan sebagai pilihan, melainkan keharusan.

Faris mengurus pengunduran diri kuliah sendirian. Tidak ada yang menemaninya. Tidak ada yang menepuk bahunya dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Ia menandatangani formulir dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu melipat kertas itu rapi. Saat melangkah keluar dari kampus, Faris tidak menangis. Ia hanya merasa seperti menaruh titik di tempat yang salah.

Sejak hari itu, hidup Faris bergerak dalam pola yang sama. Bangun sebelum Subuh, shalat, bekerja, pulang sore dengan tubuh lelah, membantu ibu, lalu duduk kembali di atas sajadah malam hari. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, tapi ada banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.

Ia sering bertanya dalam diam, “Apakah ini sudah akhirnya?”

Ia tidak iri pada teman-temannya, tapi ada rasa asing setiap kali melihat unggahan kelulusan, pernikahan, atau perjalanan jauh. Seolah hidup mereka melaju, sementara hidupnya tertahan di satu titik—atau mungkin bukan titik, tetapi sesuatu yang belum ia pahami.

Ibunya sering berkata dengan suara lembut, “Sabar ya, Ris. Allah tahu.”

Faris selalu mengangguk. Ia percaya kalimat itu. Namun ia juga tahu, percaya tidak selalu berarti kuat. Kadang percaya hanya berarti tidak menyerah meski tidak mengerti. Doa-doanya panjang, tetapi sering terasa menggantung. Seperti kalimat yang belum selesai ditulis.

Malam Jumat itu, Faris pergi ke masjid kampung. Hujan sudah reda, menyisakan udara dingin dan aroma tanah basah. Masjid kecil itu tidak megah, tapi selalu terasa hangat. Seusai shalat Isya, imam masjid memberikan nasihat singkat.

“Hidup ini,” kata sang imam pelan, “tidak selalu diberi titik oleh Allah. Kadang Allah memberi koma. Supaya kita belajar melanjutkan.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Faris merasa seolah seseorang baru saja menyentuh luka yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Ia pulang dengan langkah pelan, mengulang kalimat itu dalam hati.

Mungkin aku belum selesai. Mungkin aku hanya sedang berada di antara titik dan koma.

Sejak malam itu, Faris berhenti menuntut hidupnya untuk segera berubah. Ia mulai fokus pada hari ini. Ia membaca buku bekas pinjaman dari masjid. Ia belajar lewat ponsel di sela istirahat kerja. Ia menulis catatan kecil tentang mimpi-mimpinya bukan untuk memaksa, tapi untuk mengingat bahwa ia masih punya arah.

Doanya berubah. Bukan lagi doa agar cepat selesai, tetapi doa agar dikuatkan. “Ya Allah,” bisiknya suatu malam, “aku lelah, tapi aku tidak ingin berhenti.”

Masalah tidak serta-merta hilang. Namun ada ketenangan kecil yang mulai tumbuh. Seperti jeda napas dalam kalimat panjang.

 

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Pnyuntng: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

(Cerpen) Di Antara Titik dan Koma

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Menyulam Pahala dalam Setiap Masakan
22 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Tahukah kamu bahwa setiap aktivitas sehari-hari bisa menjadi ladang pahala, termasuk memasak? Allah Swt memberikan banyak kesempatan... selengkapnya

Begini Cara Menentukan Kapan Kamu Harus Menikah
8 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam melakukan pernikahan tentunya kita memiliki tujuan-tujaun tertentu, umumnya untuk ibadah dan itu sangat mulia. Namun, akhir-akhir ini,... selengkapnya

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?
22 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua yang terjadi di dunia ini tidak luput dari ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (qadha) dan implementasinya (qadar).... selengkapnya

Awas! Hijab Antara Murid Dengan Guru, Penyebab Sulitnya Mendapatkan Ilmu
14 Mei 2023

  Pustaka Al-Bahjah, Cirebon- Kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu ikhtiar untuk mendapatkan ilmu. Namun bagaimana jika antara guru dengan... selengkapnya

Menenun Cahaya Qur’ani di Tanah Cirebon: Jejak Langkah Pendidikan Formal Al-Bahjah
1 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah sudut yang hening namun penuh makna, tepatnya di Jl. Pangeran Cakrabuana No. 179 Cirebon, berdirilah sebuah... selengkapnya

Buya Yahya Ingatkan Beratnya Menjadi Pemimpin
10 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Saat kita memiliki pemimpin atau atasan, Buya Yahya mengingatkan agar kita tidak lupa untuk mendoakan mereka. Jangan... selengkapnya

Jangan Sampai Merugi, Lakukan 2 Hal Ini Sebelum Datangnya Ramadhan
16 Maret 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat Pustaka sekalian, tak terasa Ramadhan tinggal menghitung hari. Sebagai orang beriman, kita tentu harus bergembira... selengkapnya

Simfoni Pengorbanan Iduladha
30 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Iduladha bukan sekadar hari raya, tapi sebuah perjalanan hati menuju pengorbanan sejati. Di balik setiap tetes keringat dan... selengkapnya

Umat Islam Wajib Mengenal Tahun Hijriah
25 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Merayakan tahun baru merupakan salah satu momen yang sangat dinanti oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan momen pergantian tahun... selengkapnya

Revitalisasi Ajaran Sosial-Religius Sunan Gunung Djati: Pilar Harmoni dalam Kehidupan Bermasyarakat
5 Februari 2025

sumber gambar: Suara Cirebon Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sunan Gunung Djati, atau yang dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah, merupakan salah satu... selengkapnya

(Cerpen) Di Antara Titik dan Koma

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: