Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi

Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi

Diposting pada 7 November 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 367 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dikisahkan ada seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair. Pada suatu waktu, ia dipilih oleh Rasulullah untuk melakukan tugas penting, yakni menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah. Di sana ia harus mengajarkan seluk-beluk agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit Aqabah agar keimanannya semakin kuat. Tidak hanya itu, ia harus mengajak orang-orang lainnya agar ikut juga menganut agama Allah, serta mempersiapkan Kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul. Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal yang Allah karuniakan kepadanya, yaitu  berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur.

Sesampainya di Madinah, jumlah kaum muslimin yang ada di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit Aqabah. Akan tetapi, tidak sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Hal itu tiada lain karena sifat zuhud, kejujuran, dan kesungguhan hati Mush’ab bin Umair. Ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka pun berduyun-duyun masuk Islam.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah, dan tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalamullah, “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati. Sebab, pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, nyaris celaka. Namun karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya akhirnya dapat teratasi.

Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba ia disergap oleh seseorang bernama Usaid bin Hudhair. Ia merupakan kepala kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan tombaknya. Usaid marah dan murka lantaran menyaksikan Mush’ab karena telah mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu.

Usaid bin Hudhair benar-benar murka, terpancar di mukanya bagaikan api yang sedang berkobar. Selanjutnya, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan berkata, “Apa maksud kalian datang ke kampung kami, apakah hendak membodohi rakyat kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin nyawa kalian melayang!” bentaknya. Namun dengan tenang seperti samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar. Terpancarlah ketulusan hati Mush’ab, bergeraklah lidahnya mengucapkan kalimat halus, “Kenapa Anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Jika Anda menyukainya, tentu Anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak Anda sukai itu,” tawarnya.

Usaid pun menjatuhkan tombaknya ke tanah dan duduk mendengarkan. Kemudian Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, mengalun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Belum selesai Mush’ab dari uraiannya, Usaid pun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu. Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini?” Maka gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian Mush’ab berkata, “Hendaklah engkau menyucikan diri, pakaian, dan badannya, serta bersaksi bawa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah Subhanu wa Ta’ala.”

Usaid pun akhirnya menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam itu utusan-Nya. Secepatnya berita itu pun tersiar luas. Keislaman Usaid disusul oleh Sa’ad bin Mu’adz. Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga Kota Madinah saling berdatangan, “Jika Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Ubadah, dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya!” seru orang-orang.

Begitulah para sahabat Rasulullah yang bersih hatinya menyampaikan dakwah hanya karena Allah semata. Kalimat yang mereka ucapkan bisa membuat seseorang takjub hingga tertarik untuk masuk agama Islam. Semua itu bukan tanpa usaha, tapi karena kedekatan  mereka terhadap Nabi Muhammad Salallahu ‘Aalaihi Wassalam dan selalu mengamalkan apa-apa yang diajarkan oleh Nabi.

Pilihan Rasulullah tidak pernah salah. Beliau memilih Mush’ab bin Umair untuk menjadi utusan karena Rasulullah tahu kemampuan Mush’ab bin Umair untuk mengajak masyarakat Madinah kepada ajaran Rasulullah. Sebagai pendakwah pada zaman sekarang, kita harusnya meniru perjalanan para sahabat bagaimana cara beliau-beliau menyampaikan ajaran Rasulullah. Sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr, “Suatu saat, akan datang manusia yang banyak khatib (penceramah), tetapi sedikit para fuqaha (ulama yang benar-benar memahami agama)”

Sesuai dengan realita saat ini begitu banyak pendakwah tetapi tidak seperti pada zaman Rasulullah. Seorang pendakwah tidak hanya sekadar menyampaikan isi ceramah, tapi harus  mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah, serta mengamalkan apa-apa yang ia ajarkan kepada orang lain. Karena sejatinya orang yang alim bukan dilihat dari kecerdasannya saja. Namun dilihat dari sebanyak apa yang ia amalkan setelah ia mengetahui perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan sedikit usaha kita meniru jejak langkah para sahabat Nabi, semoga kita termasuk di dalam golongannya. Amin.

 

Penulis: Muhammad Tis Asuh Sobirin

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Banyak Orang yang Keliru, Inilah Makna Nuzulul Quran yang Sesungguhnya
7 April 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Nuzulul Quran merupakan peristiwa turunnya Al-Quran. Buya Yahya menjelaskan bahwa terdapat empat macam Nuzulul Quran, yakni... selengkapnya

Hukum Menukar Uang Baru dengan Selisih Nilai dalam Islam
11 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjelang hari raya, sering kita jumpai praktik penukaran uang baru di tempat-tempat tertentu. Banyak orang menukarkan uang dengan... selengkapnya

Hari Kedua Bazar-Expo Maulid, Ada Seminar Parenting dan Sharing Cinta di Al-Bahjah
30 September 2022

Pustaka-Al-Bahjah, Cirebon – Bazar-Expo yang diselenggarakan sebagai rangkaian kemeriahan menyambut Maulid Nabi Muhammad Saw telah memasuki hari kedua, Jumat, 30... selengkapnya

Asal-Usul Jin dalam Perspektif Islam
10 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 15 dan surat Al-Hijr ayat 27 diterangkan, bahwa jin merupakan makhluk yang... selengkapnya

Sambut Idul Adha 1444 H, LPD Al-Bahjah Gelar Buka Puasa Arafah Bersama
28 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – LPD Al-Bahjah menggelar buka puasa Arafah bersama pada hari Kamis 9 Dzulhijjah 1444 H , 28... selengkapnya

Pada Malam Nisfu Sya’ban Semua Orang Diampuni, Kecuali Dua Golongan ini
24 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Syaban adalah bulan yang diperhatikan oleh Nabi secara khusus. Perhatian Nabi kepada bulan Sya’ban disebabkan karena... selengkapnya

PELUANG BERKHIDMAH DALAM DAKWAH BERSAMA PUSTAKA AL-BAHJAH
17 Juli 2023

PELUANG BERKHIDMAH DALAM DAKWAH BERSAMA PUSTAKA AL-BAHJAH Assalamu’alaikum Bagi kalian yang memiliki kemampuan dalam bidang Public Relations atau Editor Bahasa... selengkapnya

Abu Dzar Al-Ghifari, sang Pelopor Gerakan Hidup Sederhana
20 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Abu Dzar adalah sahabat dekat Rasulullah dan termasuk salah satu orang terawal yang masuk Islam. Ketika ia masuk... selengkapnya

Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya
11 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati dalam pandangan Islam, bukan hanya organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual dan moral. Ia adalah cermin kehidupan... selengkapnya

Apakah Curhat Termasuk Gibah?
7 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Curhat bisa menjadi suatu gunjingan dan bisa juga bukan. Artinya, terdapat dua tipe curhat, yaitu curhatan untuk... selengkapnya

Diplomasi Santun Dakwahnya Mush’ab bin Umair, sang Duta Islam Pilihan Nabi

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: