Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » (Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati

(Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati

Diposting pada 13 September 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 503 kali / Kategori:

LANGGAR tua itu berdiri di ujung kampung, sederhana dan hampir lapuk dimakan waktu. Namun setiap sore, suara ayat suci selalu menggema dari dalamnya. Bagi para santri, tempat itu bukan sekadar ruang belajar, melainkan rumah kedua.

Di antara para santri ada seorang anak muda bernama Fahri. Baru setahun ia mondok, tetapi semangatnya selalu membara. Walau bacaannya belum fasih, ia terus bertahan karena selalu teringat kata-kata pengasuhnya, Kiai Ahmad:

Santri bukanlah siapa yang paling cepat menguasai kitab, melainkan siapa yang paling sabar menjaga niat.

Malam itu, langgar dipenuhi cahaya lampu minyak. Para santri duduk bersila dengan wajah penuh antusias. Kiai Ahmad membuka kisah, kali ini bukan tentang fiqih atau nahwu, melainkan tentang sejarah.

“Anak-anakku,” ucapnya dengan suara tenang, besok kita memperingati Hari Santri. Tapi mari kita kenang seorang wali besar, pewaris Nabi, yang namanya terpatri di tanah ini: Sunan Gunung Jati.”

Para santri mendongak, matanya berbinar.

“Sunan Gunung Jati,” lanjut Kiai Ahmad, bernama asli Syariif Hidayatullah. Ia lahir di tanah Mesir, memiliki darah Quraisy dari ayahnya, Syariif Abdullah, keturunan Rasulullah. Namun juga memiliki darah Pasundan dari Ibunya Nyai Rara Santang atau Syariifah Mudaim, putri Prabu Siliwangi. Sejak kecil, ia mewarisi dua warisan: darah kenabian dan darah kerajaan.”

Para santri tercengang. Bagi mereka, baru kali ini sejarah itu terdengar begitu dekat.

“Syariif Hidayatullah sejak muda pergi menuntut ilmu. Ia belajar tafsir, fiqih, tasawuf, bahkan ilmu politik dan diplomasi. Ia melihat dunia Islam yang luas, lalu dengan restu dari sang Ibunda, Syariif Hidayatullah pergi ke tanah Sunda membawa cahaya.”

Kiai Ahmad melanjutkan dengan penuh semangat:

“Di pesisir Pasundan, tepatnya di tanah Cirebon, beliau tidak memilih jalan menjadi pertapa, tapi membangun masyarakat. Melanjutkan Kesultanan Cirebon yang dibangun uwanya Raden Walangsungsang atau Mbah Kuwu Cirebon sebagai benteng dakwah. Ia paham betul, Islam tidak cukup hanya dengan ceramah, tapi perlu tatanan sosial dan politik yang adil. Maka istana dan masjid berdiri berdampingan—menjadi simbol bahwa agama dan negara tak boleh dipisahkan.”

Para santri semakin larut. Seolah-olah mereka bisa melihat istana megah di pinggir laut Cirebon, berdiri sejajar dengan masjid yang selalu ramai jamaah.

“Sunan Gunung Jati bukan hanya seorang guru,” kata Kiai Ahmad, “beliau juga pejuang. Saat Portugis datang ke Sunda Kelapa, beliau bersama Kesultanan Demak mengirim pasukan. Portugis yang datang dengan kapal meriam ditantang dengan bambu runcing, keberanian, dan doa. Dari situlah lahir kemenangan, Sunda Kelapa jatuh ke tangan umat Islam, lalu diganti namanya menjadi Jayakarta.”

Para santri merinding. Fahri membayangkan deru ombak, teriakan takbir, dan kapal-kapal asing yang terbakar di lautan.

“Lihatlah, anak-anakku,” lanjut Kiai Ahmad, “perjuangan itu bukan hanya pedang melawan meriam, tapi juga doa melawan kesombongan. Sunan Gunung Jati membuktikan bahwa keberanian lahir dari iman.”

Kiai Ahmad menundukkan wajahnya, suaranya merendah tetapi makin dalam.
“Namun, anak-anakku, yang paling abadi dari beliau bukanlah istana, bukan pula peperangan, melainkan pesan yang ia tinggalkan: ‘Ingsun titip tajug lan faqir miskin.’ Aku menitipkan masjid dan faqir miskin. Beliau tahu, istana akan runtuh, takhta akan digantikan, tapi masjid dan manusia lemah adalah fondasi peradaban.”

Fahri tertegun. Baginya, pesan itu lebih dalam dari ribuan kata. Ia membayangkan masjid kecil di desanya, tempat ia belajar dan bersujud. Ia juga melihat wajah-wajah faqir miskin di kampungnya yang sering ditolong orang-orang pondok. Ternyata, di situlah inti jihad.

Malam semakin larut. Setelah wirid, para santri kembali ke bilik masing-masing. Fahri tertidur di serambi dengan mushaf terbuka di dadanya. Dalam mimpi, ia melihat dirinya berada di pelabuhan Sunda Kelapa. Ombak bergemuruh, kapal Portugis mendekat dengan meriam menggelegar. Dari kejauhan, pasukan Islam berbaris dengan bambu runcing dan panji tauhid.

Di barisan depan berdiri seorang lelaki dengan wajah bercahaya, serban putih melilit kepalanya. Seorang tua berbisik di telinga Fahri: “Itulah Sunan Gunung Jati.”

Sunan mengangkat tangan ke langit, berdoa, lalu memberi aba-aba. Takbir menggema, lautan berguncang. Namun di tengah hiruk pikuk perang, yang paling menggetarkan hati Fahri adalah wajah Sunan Gunung Jati yang tenang, seolah mengatakan: “Keberanian sejati lahir dari iman, bukan senjata.” Adegan berganti. Sunan Gunung Jati duduk di serambi masjid, menyuapi seorang anak yatim. Lalu beliau menoleh pada Fahri, menatapnya penuh kasih, dan berkata:
“Ingsun titip tajug lan faqir miskin. Jagalah masjid, cintailah orang miskin, karena dari mereka Allah menurunkan rahmat.”

Air mata Fahri mengalir deras. Ia ingin menjawab, tapi bibirnya kelu. Fahri terbangun dengan tubuh berpeluh. Ayat di mushaf terbuka berbunyi: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ia sadar mimpinya bukan kebetulan, melainkan isyarat.

 

KEESOKAN harinya, 22 Oktober, para santri mengadakan kirab. Obor dinyalakan, bendera merah putih dikibarkan, dan shalawat menggema. Fahri berjalan di barisan tengah, memeluk Al-Qur’an tua di dadanya. Dalam hati ia berbisik:

Ya Allah, aku mungkin tak bisa menjadi Sunan Gunung Jati. Tapi izinkan aku menjadi santri kecil yang menjaga wasiatnya: menjaga masjid, menolong faqir miskin, dan mencintai negeri ini.

Senja turun perlahan. Langit berwarna jingga, bintang satu per satu muncul. Fahri duduk di serambi langgar, menatap langit dengan mata basah. Ia teringat kata-kata Kiai Ahmad:

Dunia mungkin melupakan Sunan Gunung Jati. Buku-buku besar mungkin hanya menyinggungnya sekilas. Tapi selama ada santri yang membaca Qur’an di langgar, selama ada doa yang terangkat dari masjid kecil, selama ada tangan yang menolong faqir miskin, maka cahaya beliau tetap hidup.

Langgar tua itu tetap berdiri, sederhana tetapi kokoh sebagai saksi. Dari ruang kecil itulah lahir santri-santri yang meneruskan cahaya. Cahaya yang turun dari Sunan Gunung Jati, menembus abad-abad, hingga menyala di dada para santri hari ini. Di dalam dada Fahri, cahaya itu menyala abadi.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

(Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Peresmian Gedung Penerbit Pustaka Al-Bahjah
17 Maret 2022

Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan sebagai upaya penyebaran ilmu agama Islam, Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah... selengkapnya

Shalawat itu ‘Murah-Meriah’, Mari Hadirkan Baginda Nabi ﷺ di Hati Kita
14 Oktober 2021

PUSTAKA AL-BAHJAH-ARTIKEL-Bulan Rabi’ul Awal selalu menjadi momentum spesial untuk kembali mengenang perjuangan Rasulullah, memperingati hari kelahiran manusia terbaik yang pernah... selengkapnya

Al-Bahjah Pusat Kukuhkan Pengasuh Pondok Pesantren Baru
28 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam upaya menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan melanjutkan sinergitasnya, Pondok Pesantren Al-Bahjah Pusat mengukuhkan pengasuh baru. Acara... selengkapnya

Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir
10 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Suatu Jumat pagi, saya pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Setelah saya memarkirkan motor di area bebas... selengkapnya

Lakukan Ini Agar Anda Bisa Berkunjung ke Makkah dan Madinah
29 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Berkunjung ke Makkah dan Madinah merupakan impian yang dimiliki banyak orang. Makkah dan Madinah merupakan dua tempat... selengkapnya

Tafsir Alam: Ketika Alam Tak Lagi Diam
16 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini telah terjadi berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, terutama longsor dan banjir. Menurut berbagai sumber... selengkapnya

Hukum Pembayaran Zakat Fitrah Melalui Transfer Bank E Wallet dan QR Code Perspektif Hukum Islam
27 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap menjelang Idulfitri, umat Islam di seluruh dunia berbondong-bondong menunaikan zakat fitrah sebagai bentuk penyucian diri dan... selengkapnya

Ilmu-Ilmu Pengetahuan Ini Terinspirasi dari Peristiwa Isra’ Mi’raj
28 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Islam memiliki banyak peristiwa penting yang berperan dalam perkembangan agama, salah satunya peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada malam... selengkapnya

Surat Cinta Untukmu Ya Rasulallah
1 Maret 2023

Karya : Ummi Fairuz Ar- Rahbini   Lebih bagus dari mu ya Rasulullah Sungguh mata ini tak pernah melihatnya Lebih... selengkapnya

Apakah Kebakaran di Los Angeles Balasan atas Kekejaman di Gaza?
16 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Menelisik peristiwa yang terjadi di Palestina, setidaknya ada tiga pihak yang terlibat di dalamnya. Pertama adalah rakyat... selengkapnya

(Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: