● online
Bulan Shafar Bukan Bulan Sial

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Umat Islam kini telah memasuki bulan Shafar 1448 Hijriah, bulan kedua dalam penanggalan Islam setelah Muharam. Di sejumlah daerah, datangnya bulan Shafar masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos dan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat. Ada yang menganggap bulan ini sebagai waktu yang kurang baik untuk memulai usaha, melangsungkan pernikahan, bepergian jauh, atau mengadakan hajatan tertentu. Bahkan sebagian orang meyakini Shafar sebagai bulan turunnya bala dan berbagai musibah. Pandangan seperti itu telah hidup cukup lama dan diwariskan secara turun-temurun. Namun, benarkah keyakinan tersebut memiliki dasar dalam ajaran Islam?
Jika merujuk kepada Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam, serta penjelasan para ulama, tidak ditemukan satu pun dalil yang menyatakan bahwa bulan Shafar merupakan bulan kesialan atau bulan yang secara khusus dipenuhi bencana. Sebaliknya, Islam hadir untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk takhayul dan keyakinan yang tidak memiliki landasan syariat.
Warisan Kepercayaan Masa Jahiliah
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab memiliki berbagai kepercayaan yang berkaitan dengan pertanda baik maupun buruk. Mereka sering menghubungkan nasib seseorang dengan waktu, tempat, hewan tertentu, atau peristiwa yang dianggap membawa sial. Salah satu kepercayaan yang berkembang saat itu adalah anggapan bahwa bulan Shafar merupakan bulan yang sarat dengan kesialan dan malapetaka.
Ketika Islam datang, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam meluruskan berbagai keyakinan tersebut. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berada dalam kehendak dan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena pengaruh bulan, hari, atau waktu tertentu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Tidak ada ‘adwa (penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada hamah, dan tidak ada kesialan pada bulan Shafar.” (HR. Bukhari)
Hadits ini menjadi dasar yang sangat jelas bahwa Islam menolak anggapan adanya kesialan khusus pada bulan Shafar.
Jangan Mengaitkan Musibah dengan Waktu
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menghubungkan datangnya musibah dengan waktu tertentu. Ketika terjadi kecelakaan, bencana, atau kegagalan pada bulan Shafar, sebagian orang kemudian menganggap hal itu sebagai bukti bahwa Shafar memang membawa kesialan.
Padahal musibah dapat terjadi kapan saja. Demikian pula nikmat dan keberuntungan. Semua berlangsung sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak terkait dengan suatu bulan tertentu. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengingatkan umatnya agar tidak mencela waktu atau masa. Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan:
“Janganlah kalian mencela masa, karena Allah-lah yang mengatur masa itu.” (HR. Muslim)
Pesan hadits ini mengajarkan bahwa waktu hanyalah bagian dari ciptaan Allah. Tidak ada bulan yang pantas disalahkan atas berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya.
Bahaya Tathayyur dan Prasangka Buruk
Dalam Islam dikenal istilah tathayyur, yaitu menganggap sesuatu sebagai pertanda buruk yang akan membawa kesialan. Sikap seperti ini tidak dianjurkan karena dapat merusak keyakinan dan mengurangi ketergantungan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang Muslim seharusnya meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang mampu memberikan manfaat maupun mudarat kecuali atas izin Allah. Oleh karena itu, rasa takut terhadap bulan, angka, hari, atau simbol tertentu tidak memiliki tempat dalam aqidah Islam. Sebaliknya, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan umatnya untuk selalu memiliki harapan baik dan berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sikap optimis dan tawakal merupakan bagian penting dari keimanan.
Menghidupkan Shafar dengan Amal Saleh
Daripada disibukkan oleh mitos dan kekhawatiran yang tidak berdasar, umat Islam seharusnya menjadikan bulan Shafar sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Tidak ada amalan khusus yang diwajibkan hanya karena memasuki bulan Shafar. Namun sebagaimana bulan-bulan lainnya, Shafar dapat diisi dengan berbagai kebaikan seperti memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berdoa menjadi pengingat bahwa perlindungan sejati hanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan dari ritual-ritual yang lahir dari keyakinan takhayul.
Menumbuhkan Optimisme dan Tawakal
Bulan Shafar seharusnya tidak menjadi alasan untuk hidup dalam ketakutan. Justru seorang Muslim dituntut untuk terus menumbuhkan optimisme, semangat berikhtiar, dan keteguhan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Jika menghadapi ujian, ia bersabar. Semua peristiwa dipandang sebagai bagian dari ketentuan Allah yang mengandung hikmah, bukan sebagai akibat dari kesialan suatu bulan.
Karena itu, memasuki Shafar 1448 Hijriah hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat keyakinan bahwa seluruh perjalanan hidup berada dalam genggaman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada bulan yang membawa sial, sebagaimana tidak ada waktu yang mampu menentukan nasib seseorang selain kehendak-Nya. Pada akhirnya, yang menentukan baik atau buruknya kehidupan bukanlah bulan Shafar, melainkan sejauh mana manusia mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan menjaga keimanan dalam setiap keadaan.
Wallahu ‘A’lam Bisshowab
Penulis: Khoirul Umam Sonhadji
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Bulan Shafar Bukan Bulan Sial
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Aktivitas manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidup tentu tidak lepas dengan makan dan minum. Makanan dan minuman yang... selengkapnya
Sesungguhnya umat Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Allah Subhanahuwata’ala, baik manusia,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Memasuki bulan Maulid tahun 1445 Hijriah ini, semangat merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw semakin memuncak di... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setidaknya di akhir pekan bulan ini orang-orang mulai melaksanakan aktivitasnya kembali. Suasana dan euforia pascaliburan membekaskan kesan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tahukah kamu bahwa dalam Islam terdapat istilah istinja. Secara sederhana pengertian istinja adalah aktivitas bersuci setelah berhadas dari... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mandi pada hari Jum’at memiliki kedudukan yang berbeda dengan mandi di hari-hari yang lain, jika dilihat dari... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita sering kali merasa kehilangan saat harus memutus hubungan dengan seseorang yang dulu pernah dekat, bahkan sangat spesial.... selengkapnya
Dalam kesempatan khutbah singkat ini, kami akan menghadirkan sebuah renungan untuk diri kami sendiri khususnya dan untuk semuanya yang mendengar... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah makna ta’aruf itu sendiri. Ta’aruf bukanlah kesepakatan untuk menuju kepada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak luput dari yang namanya komunikasi. Baik itu dengan pasangan, keluarga, teman kerja,... selengkapnya
Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Ukuran: 14 x 21 cm Tebal buku: 144 Halaman Sesungguhnya syariat Islam adalah syariat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000
Saat ini belum tersedia komentar.