● online
Jika yang Berbicara Bukan Ahlinya

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia berhak untuk berbicara tentang apa pun kepada siapa pun, selagi yang dibicarakannya adalah pembicaraan yang baik dan benar. Inilah kemudian menjadi yang kewajiban setiap Muslim kepada Muslim lainnya untuk menyampaikan kebaikan, walaupun satu ayat. Hal ini yang akan mendorong setiap orang agar bisa saling berbagi pengetahuan. Meski kecil, tetap bernilai dan bisa berdampak besar. Namun memberikan kebaikan ini mesti disertai dengan pertanggungjawaban terkait isi yang disampaikannya. Seperti, memilah dan memilih topik dan orang yang disesuaikan dengan keahlian atau bidang yang dikuasainya. Apalagi ketika kita berbicara tentang suatu persoalan di sebuah mimbar ataupun di media. Sebab dengan begitu, apa pun yang disampaikan nantinya benar-benar memberikan dampak, bukan menyesatkan.
Berbicara tentang suatu persoalan di sebuah media bukanlah hanya bermodalkan pandai berbicara (public speaking) saja. Akan tetapi, harus diimbangi dengan keilmuan yang dikuasai, dalam arti lain, orang yang ahli di bidangnya. Betapa celakanya, orang-orang berbicara di media tanpa diimbangi dengan keilmuan yang dimiliki. Berbicara hanya berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok saja.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ahli berarti orang yang sangat mahir, menguasai, dan paham dalam suatu ilmu atau seseorang yang memiliki keahlian mendalam dalam menelaah dan menganalisis suatu bidang. Terdapat perbedaan antara opini pribadi dan pendapat berdasarkan keahlian. Opini pribadi lebih cenderung kepada pengalaman pribadi yang bersifat subjektif dan terkadang tidak ada bukti yang konkret. Sedangkan pendapat berdasarkan ahli umumnya berdasarkan pengetahuan mendalam, penelitian dan data yang di dapatkan oleh seseorang yang ahli di bidangnya.
Kompetensi dan sumber data yang valid menjadi hal yang penting dalam produksi media, karena media dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat yang menyaksikannya. Jika yang ditampilkan sebuah kebaikan berupa ilmu pengetahuan, hal ini dapat menjadi sarana edukasi. Akan tetapi, jika yang ditampilkan sebaliknya, hal ini akan menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat, apalagi yang kaitannya dengan isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan). Hal seperti itu yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan bahkan bisa menyulut sebuah konflik.
Ketika sebuah media menampilkan program yang diisi oleh orang yang bukan ahli di bidangnya─hanya pandai dalam berbicara tapi tidak diimbangi dengan keilmuan yang cukup─hal ini berpotensi memicu terjadinya beberapa dampak permasalahan. Pertama, terjadinya disinformasi atau penyampaian informasi yang salah, sehingga membingungkan orang lain yang menyaksikan konten tersebut. Kedua, hilangnya kepercayaan publik terhadap media yang menampilkan informasi keliru. Ketiga, terjadi keputusan, menciptakan stigma, atau persepsi yang salah dari publik karena didasarkan pada informasi yang keliru dan menyesatkan. Keempat, terjadinya protes oleh masyarakat atau kelompok yang merasa dirugikan karena kesalahan dalam menyampaikan informasi dan bisa berujung pada tindakan hukum.
Faktor yang menyebabkan orang dapat berbicara apa pun meskipun bukan ahlinya, salah satunya karena mudahnya mengakses media sosial dan platform digital sehingga mereka merasa tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya. Paradoks ini, harus menjadi kesadaran berbagai pihak, bahwa kemudahan mengakses informasi harus disertai dengan peningkatan literasinya. Sebab, kurangnya literasi informasi menjadi penyebab pemahaman seseorang tidak didapatkan secara utuh tanpa mengetahui kebeneran informasinya.
Perlu adanya upaya untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam menyampaikan dan menerima informasi. Meningkatkan literasi media dan informasi menjadi salah satu langkah penting dalam mendidik masyarakat untuk membedakan sumber yang kredibel. Kemudian Islam telah memberikan banyak etika dalam berkomunikasi, maka junjunglah etika tersebut agar ketika berbicara di ruang publik tidak ada orang atau kelompok yang merasa tersinggung. Begitu pentingnya menyadari batas keilmuan diri ketika menyampaikan sesuatu. Jika tidak tahu, katakanlah tidak tahu. Jangan memberikan informasi yang kita sendiri tidak mengetahui. Selain itu peran media dalam menyaring narasumber dan sumber informasi menjadi hal yang sangat penting. Media harus mengutamakan narasumber yang ahli di bidangnya ketika hendak mengangkat tema-tema tertentu.
Upaya yang terakhir yaitu menguatkan peran ahli dengan memberi ruang bagi para ahli untuk terlibat dalam diskusi publik. Jadikanlah para ahli sebagai rujukan ketika hendak menyampai informasi atau narasi yang ‘rentan’ untuk dibahas. Jika berbicara agama, jadikan para pemuka agama atau ulama sebagai narasumber. Begitu juga ketika berbicara tentang politik, kesehatan, dan bidang-bidang lainnya, maka jadikan para ahli di bidangnya sebagai narasumber. Dengan demikian informasi yang disampaikan adalah informasi yang valid atau sesuai dengan keilmuannya.
Begitu pentingnya mendengar dan memberi ruang kepada narasumber yang sesuai dengan keahliannya. Sebab, hal ini berpengaruh kepada publik yang mendengar atau yang menyaksikan. Selain itu, jadilah masyarakat yang kritis, bijak, dan cerdas dalam menerima sebuah informasi, agar bisa membedakan mana informasi yang valid dan mana informasi yang hoaks.
Penulis: Moh. Minanur Rohman
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Jika yang Berbicara Bukan Ahlinya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pada kegiatan Maulid dan Silaturahmi Akbar Al-Bahjah 1444 H kemarin, sangat banyak ilmu dan nasihat yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan lebih baik dari seribu bulan, malam yang penuh... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Merupakan sebuah kebaikan membuat program mulia dengan membagikan makanan sehat, bergizi, dan gratis atau MBG kepada masyarakat. Selagi... selengkapnya
Musabaqoh Kubro LPD AL-Bahjah: Menggali Potensi Diri dari Para Santri PUSTAKA AL-BAHJAH-SEPUTAR PONDOK-Penutupan Musabaqoh Kubro di Lapangan Formal LPD (Lembaga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita perayaan Hallowen di Arab Saudi yang notabene merupakan negara Islam.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Kepergian orang tua untuk selama-lamanya tentu selalu meninggalkan kesedihan dan duka yang mendalam. Penyesalan seringkali... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat sekalian, puasa merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Siapa pun yang meninggalkan puasa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Istilah Rebo Wekasan sudah familiar pada sebagian kalangan masyarakat. Rebo Wekasan ialah istilah untuk hari Rabu... selengkapnya
Aku tak menyangka jika kegemaranku bermain di perpustakaan umum dekat tempat tinggalku dapat mengantarkanku ke menara gading. Sungguh itu di... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Setelah menunaikan ibadah haji, seorang muslim akan kembali ke tanah air dan tempat tinggalnya masing-masing. Adab... selengkapnya
Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000
Saat ini belum tersedia komentar.