Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Gen Z, Generasi paling Kesepian

Gen Z, Generasi paling Kesepian

Diposting pada 14 Oktober 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 423 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Generasi Z sering kali disebut sebagai generasi beruntung karena hidup di tengah-tengah perkembangan teknologi. Oleh karenanya, kepemilikan gawai pada kalangan Gen Z seakan menjadi kebutuhan pokok yang mesti dipenuhi. Namun di balik itu semua, tersimpan sebuah paradoks ketika kehidupan nyatanya tak sesuai dengan kehidupan mayanya.

Bangun tidur, gawai yang dicari. Mau tidur, gawai yang dipegang. Begitu pula dengan kuota internet. Jika kehabisan akses internet, hati rasa tak tenang. Ditambah dengan platform media sosial yang beraneka ragam mendorong banyak orang untuk memilikinya. Meskipun dunia maya, nyatanya berdampak besar pada gaya hidup seseorang di dalam dunia nyata.

Berselancar di dunia maya memberikan keasyikan tersendiri. Salah satunya bisa mengetahui banyak hal. Cilakanya, saking bebasnya mengakses berbagai hal seseorang dapat mengetahui hal-hal yang tidak sepatutnya disebarluaskan. Misalnya, berita hoax, flexing, gibah, bahkan juga aktivitas khusus pasutri di rumah, sehingga tidak sedikit pula banyak orang menjadikan apa yang dilihatnya di media sosial orang lain menjadi standar dan inspirasi baginya.

Ironisnya, orang yang menjadikan sosial media sebagai standarnya membuat kesehatan mentalnya terganggu. Pada satu sisi, seseorang merasa antusias dengan konten-kontennya yang ramai, follower, maupun teman-teman di media sosialnya. Namun sebaliknya, seseorang itu sering kali kesepian dalam dunia nyatanya.

Hal ini yang menggerakkan seorang mahasiswa UMY jurusan Ilmu Komunikasi untuk membuat sebuah penelitian yang berjudul Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”. Kajian hiperrealitas sendiri merupakan representasi digital yang dipandang lebih nyata dari realitas itu sendiri. Pandangan ini menjelaskan bagaimana platform digital seperti media sosial dapat membentuk emosi seseorang dalam berperilaku di kehidupan nyata. Emosi yang tidak terkontrol akan sangat berpengaruh pada kesehatan mental dan tentu saja hubungan sosialnya dengan orang-orang di sekitar.

Badai informasi yang sebenarnya faktual tetapi tidak mampu dipilah dengan cerdas dan sehat, bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang. Gen Z dikenal dengan generasi yang adaptif terhadap media digital. Tidak heran jika mereka mendominasi konten-konten yang ada di sosial media. Banyak ide kreatif yang mereka miliki. Mulai dari yang memang bermanfaat sampai yang unfaedah.

Sebenarnya literasi digital yang dimiliki Gen Z lebih tinggi dari generasi yang sebelumnya. Termasuk juga informasi tentang bagaimana manajemen penggunaan gawai, mereka mengantonginya. Namun, di balik itu mereka dominan merasa kesepian. Mengapa bisa begitu?

Ya, salah satunya karena adanya industri kapitalis. Mindset yang mereka miliki hanya urusan meraih cuan dari aktivitas masyarakat di sosial media. Oleh sebab itu, arus sosial tidak serta merta berjalan sendiri. Para kapitalis mengatur arus industri tersebut. Membentuk arusnya dengan sedemikian rupa sehingga menarik untuk diselami oleh masyarakat, khususnya Gen Z yang sedang melek-meleknya dunia digital. Ironisnya, semakin dalam menyelam, mereka semakin mudah untuk terlepas dari pergaulan nyata, sehingga saat kembali ke dunia nyata mereka kesulitan membangun hubungan. Parahnya, hubungan antarkeluarga juga terkena imbasnya: jarang komunikasi dan kaku, terasa begitu jauh.

Sungguh ini adalah problematika generasi yang bisa berakibat buruk terhadap tatatan masyarakat dan kemajuan peradaban. Terjebak dalam rasa kesepian membuat mereka lemah untuk bergerak menjadi garda terdepan untuk peduli terhadap kondisi masyarakat. Khususnya Gen Z yang merupakan generasi muda. Padahal, potensi yang mereka miliki sangat besar untuk memberikan karya terbaiknya untuk umat yang sedang dilanda banyak masalah ini. Oleh karenanya, dibutuhkan beberapa hal untuk keluar dari problem media sosial ini.

Pertama, memberikan edukasi tentang bersikap bijak terhadap penggunaan media sosial. Harus disadari, ketidakbijakan menggunakannya dapat menjadikan sikap asosial yang merambah menjadi budaya dalam masyarakat yang tentu dapat merugikan masyarakat ini sendiri.

Kedua, penguatan aqidah Islam, baik skala individu, keluarga, institusi pendidikan, masyarakat, sampai menjadi program negara. Dengan aqidah yang kuat, seseorang akan senantiasa mengingat bahwa ada kebahagian sejati yang menanti, yakni akhirat. Lebih dari itu, ia akan terus melakukan refleksi terhadap sesuatu yang membuat Allah ridha atau tidak, karena ia paham esensi dari kehidupan dunia.

Ketiga, masyarakat harus dicerdaskan akan problem sistem hari ini, yaitu sistem sekuler kapitalis. Sebab, ketika masyarakat cerdas, mereka akan mampu memilah dan memilih dengan tepat dalam berselancar di sosial media agar tidak menjadi korban industri kapitalis.

Keempat, negara memiliki andil besar dalam mengendalikan dunia digital. Banyak negara yang mulai aware. Seperti membuat program-program yang dapat menyelamatkan generasinya dari dampak buruk penggunaan media sosial yang tak terarah.

Generasi muda butuh diberikan ruang seluas-luasnya untuk berkreasi dalam memberikan karyanya yang bermanfaat untuk peradaban. Terdapat sebuah hadits yang berisi nasihat bahwa masa muda adalah masa yang nantinya akan dpertanggungjawaban khusus di hadapan Allah kelak.

Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya sehingga ditanya tentang lima hal: umurnya dalam apa ia gunakan, masa mudanya dalam apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi)

Semestinyalah hamba-hamba Allah yang beriman dan bertaqwa menjadikannya renungan yang menggugah untuk tanggap terhadap arah hidup generasi muda.Wahai generasi muda, ada pesan yang memuliakan engkau dari baginda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah”. (HR.Ahmad)

Maksud “Shabwah” adalah pemuda yang tidak mengikuti hawa nafsunya, dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan. Semoga gawaimu, media sosialmu, konten-kontenmu menjadi penyebab dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Amin

 

Penulis: Naila Dhofarina Noor

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Gen Z, Generasi paling Kesepian

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Pendidikan Berbasis Akhlak sebagai Solusi Krisis Karakter di Era Digital
21 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Krisis karakter yang melanda generasi muda saat ini menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi... selengkapnya

Jelas-Jelas Berselingkuh, Bolehkah Membongkar Aib Pasangan di Media Sosial?
5 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh kasus perselingkuhan seseorang yang tersebar di media sosial. Orang tersebut membuka... selengkapnya

Antara Sound Horeg dan Suara Ulama
1 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mengadakan perayaan dengan suara keras yang dihasilkan dari sepiker berdaya tinggi seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari... selengkapnya

Hati-Hati! Jangan Jadi Laki-Laki Dayyuts, Ini Ancamannya di Akhirat Kelak
27 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Salah satu golongan orang yang akan masuk neraka adalah laki-laki dayyuts. Siapakah laki-laki dayyuts ini? Ummi... selengkapnya

Buya Yahya Memberikan Tanggapan Mengenai Jenazah Mualaf yang Dikremasi
24 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Islam, tata cara pengurusan jenazah memiliki aturan yang sangat jelas dan rinci. Namun salah satu pertanyaan... selengkapnya

Cara Bijak Menghadapi Perkembangan Teknologi Artificial Intelligence (AI)
14 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Peradaban manusia berkembang begitu cepat di berbagai bidang, termasuk di bidang teknologi. Salah satu contoh perkembangan teknologi yang... selengkapnya

Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak
8 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di era modern, infrastuktur semakin maju, teknologi berkembang begitu pesat, dan segala informasi dengan... selengkapnya

Memasuki H-2, Mari Intip Kesiapan Panitia Jelang Maulid dan Silaturahmi Akbar LPD Al-Bahjah 1444 H
30 September 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Maulid dan Silaturahmi Akbar Al-Bahjah telah memasuki H-2, berbagai persiapan terus dikebut demi menyambut dan memuliakan... selengkapnya

Tanda-Tanda Jodoh yang Cocok Menurut Al-Qur’an
22 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana tanda-tanda jodoh menurut Al-Qur’an? Apa yang membuat seseorang bisa disebut sebagai jodoh yang... selengkapnya

Wanita Wajib Memperhatikan Auratnya
29 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Satu helai rambut saja, bagi wanita itu adalah aurat bagi. Begitu yang disampaikan Umi Fairuz Arrahbini dalam channel... selengkapnya

Gen Z, Generasi paling Kesepian

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: