● online
Memercayai Takdir Allah Selalu Baik

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam hidup, kita tak pernah tahu kejutan apa yang akan datang esok hari. Kadang kita bersukacita, kadang juga terpuruk dalam ujian. Namun, satu hal yang bisa membuat hati tetap tenang adalah keyakinan bahwa takdir Tuhan selalu baik meski tidak selalu mudah untuk diterima.
Manusia pada dasarnya memiliki keterbatasan dalam memahami jalan hidup. Dalam Islam, konsep takdir atau qadar menjadi bagian penting dari keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini menegaskan bahwa pemahaman manusia sering kali terbatas oleh emosi sesaat. Kita menangis saat kehilangan, padahal mungkin Allah sedang membuka jalan baru yang lebih baik. Kita kecewa saat rencana gagal, padahal bisa jadi itu bentuk perlindungan Tuhan dari sesuatu yang lebih buruk.
Dalam dunia yang serba cepat, banyak orang mencari ketenangan melalui berbagai cara: liburan, hiburan, bahkan terapi. Namun, ada satu jenis ketenangan yang tidak bisa dibeli: ketenangan jiwa yang lahir dari keimanan.
Ketika seseorang yakin bahwa segala yang terjadi adalah bagian dari skenario terbaik Tuhan, maka hatinya akan lebih mudah menerima kenyataan. Ia tidak mudah larut dalam kesedihan, tidak terlalu takut kehilangan, dan tidak iri pada pencapaian orang lain. Karena ia tahu, setiap orang punya jalan hidup yang telah Allah tetapkan dengan adil dan penuh hikmah.
Sejarah mencatat bagaimana para nabi dan orang-orang saleh menghadapi ujian dengan sabar dan tawakal. Nabi Yusuf Alaihissalam, misalnya, pernah dijebloskan ke sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, hingga difitnah dan dipenjara. Namun di akhir kisah, semua ujian itu menjadi tangga yang mengantarkannya pada kemuliaan sebagai pejabat tinggi di Mesir. Semua itu terjadi karena keyakinan dan kesabaran terhadap takdir Allah.
Begitu pula dengan Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Saat berdakwah di Mekkah, beliau mengalami berbagai penolakan, caci maki, bahkan ancaman pembunuhan. Namun beliau tetap teguh, karena yakin bahwa Allah tidak pernah menyiakan hamba-Nya.
Kehidupan ini ibarat jalan panjang dengan banyak tikungan. Kadang kita merasa tersesat, kadang lelah, kadang ingin menyerah. Tapi saat kita benar-benar percaya bahwa takdir Tuhan selalu membawa kebaikan, maka hati akan menjadi lebih lapang.
Menerima bukan berarti menyerah. Percaya bukan berarti pasrah. Tapi keduanya adalah bentuk keikhlasan tertinggi, bahwa kita berjalan bukan sendirian melainkan dalam bimbingan Sang Maha Mengetahui.
Penulis: Husni A. Mubarok
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Memercayai Takdir Allah Selalu Baik
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Makanan adalah salah satu topik pembahasan ketika membicarakan suatu daerah. Tak terlepas bagi perantau modelan saya yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Wanita cenderung memiliki beban pikiran dua kali lipat dibandingkan beban fisik. Beban fisik di sini maksudnya adalah tuntutan... selengkapnya
DI SEBUAH sekolah menengah Islam terpadu yang berdiri di pinggiran kota, terdapat sebuah masjid yang bermenara menjulang anggun. Menara itu... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita hidup pada zaman serba cepat, instan, dan terukur. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Banyak orang tua merasa telah memberikan yang terbaik bagi anak. Namun tanpa disadari, pola asuh tertentu justru dapat... selengkapnya
Asmaraloka Malam ini aku tuangkan puisi rinduku dalam sepucuk surat Kutitipkan ia kepada angin malam agar senantiasa mengecup... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bagi orang yang belum paham, ketika bepergian mungkin saja beranggapan bahwa shalat normal seperti biasa, tanpa jamak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Seorang penulis hendaknya memperhatikan daya baca pembaca sasarannya. Dalam hal ini penulis harus menempatkan diri sebagai... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Silaturahmi diambil dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Shilatun (صلة) yang berarti penghubung, ikatan atau... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Menjelang lebaran, aktivitas penukaran uang lama dengan uang baru menjadi fenomena umum di masyarakat. Banyak orang yang... selengkapnya
Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSMaulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.