● online
Medan Juang Islam

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini, kita tengah berada di bulan Agustus. Bulan yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia, karena pada bulan inilah terjadi peristiwa penting, yaitu Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Untuk mencapai sebuah kemerdekaan bukanlah sesuatu hal yang mudah─harus melewati medan juang yang sangat berat, termasuk melawan para penjajah. Para pahlawan telah mengorbankan segalanya untuk mencapai tujuan kemerdekaan Indonesia, sehingga berkat pengorbanan merekalah kini kita bisa hidup dengan tenteram dan damai.
Semangat juang para pahlawan yang menyerukan “merdeka atau mati” adalah benar adanya. Mereka siap dengan segala risiko yang ada di medan pertempuran. Oleh karena itu, jika untuk mencapai tujuan suci kemerdekaan Indonesia saja harus ditempuh dengan medan juang yang berat, maka begitu juga dalam mencapai tujuan suci menjaga kemuliaan Islam pastilah ada yang dinamakan dengan medan juang. Medan juang ini harus dihadapi oleh umat Islam sepertihalnya medan juang dalam merebut kemerdekaan. Medan juang dalam Islam ada tiga, yaitu dakwah, hisbah, dan jihad fii sabilillah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V definisi dakwah adalah penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama secara khusus dalam konteks Islam. Sederhananya dakwah adalah mengajak umat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara yang bijak dan lugas. Dakwah merupakan tugas semua umat Nabi Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wassalam bukan hanya tugas para pendakwah atau ustadz saja. Setiap manusia diberi bekal oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berdakwah dengan kemampuannya masing-masing, maka berjuanglah di medan dakwah dengan apa pun yang kita bisa.
Hisbah dalam Islam adalah sebuah konsep yang merujuk pada kewajiban untuk menegakkan kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar) dalam masyarakat. Hisbah bisa dipahami sebagai bentuk pengawasan sosial yang dilakukan oleh individu atau lembaga untuk memastikan kehidupan masyarakat berjalan sesuai dengan ajaran Islam. Sederhananya hisbah adalah amar ma’ruf nahi munkar.
Hisbah haruslah dilakukan oleh individu atau lembaga yang memang pantas dan ahli di bidangnya, karena yang dilakukan bukan hanya menegakkan kebaikan (amar ma’ruf). Akan tetapi sekaligus harus mencegah kemungkaran (nahi munkar) yang tak jarang sulit untuk atasi. Selain itu orang yang ber-hisbah mesti cerdas dan tegas karena harus berhadapan langsung dengan pelaku-pelaku kemungkaran.
Kemudian medan juang ketiga yaitu jihad fi sabilillah. Dalam Islam, jihad berarti “berjuang” atau “berusaha keras” di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Secara luas, jihad mencakup berbagai bentuk perjuangan, termasuk melawan hawa nafsu, menyebarkan ajaran Islam, membantu sesama, dan membela diri dari serangan. Jihad tidak selalu berarti perang, tapi bisa juga berupa perjuangan dalam berbagai aspek kehidupan. Jihad tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, ia harus seorang yang kuat iman dan kuat fisik. Sebab, medan juang yang satu ini memerlukan keberanian dan ekstra usaha yang keras, baik fisik, tenaga, ide, pikiran, dan lainnya, karena kerap kali akan berperang melawan diri sendiri atau melawan musuh (membela diri) yang melecehkan atau memusuhi Islam. Ini merupakan medan juang yang paling sulit dibandingkan medan juang yang lainnya karena berisiko tinggi. Akan tetapi jika imannya sudah kuat, tidak ada kata susah dan tak ada yang ditakuti kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Para mujahid (orang yang berjihad) selalu berani dan tak pandang bulu dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan berani berkorban hingga napas terakhir, seperti halnya saudara-saudara kita di Palestina. Mereka berkorban dengan jiwa raga mereka untuk menjaga tanah negara mereka Palestina yang di dalamnya terdapat kiblat pertama umat Islam yaitu Masjid Al-Aqsho. Para mujahid yang berperang bukanlah orang-orang biasa, sebagian besar dari mereka adalah penghafal Al-Qur’an dan ahli ibadah maka tak heran jika mereka berani berjihad di jalan Allah.
Ketiga medan juang Islam tersebut wajib ditegakkan oleh orang yang pantas dan memang ahli agar bisa berjalan dengan baik dan benar, semua medan wajib sinergi agar tujuan menjaga kemuliaan Islam dapat terwujud. Selain itu siapa pun yang mengisi setiap medan, jangan merasa paling benar sendiri, agar tidak saling menyalahkan dan untuk menghindari terjadinya perpecahan di tengah umat.
Itulah tiga medan juang Islam yang harus kita ketahui sebagai seorang Muslim, agar kita dapat lebih bijaksana ketika kita melihat suadara-saudara kita yang sedang berjuang, baik dengan berdakwah, ber-hisbah, ataupun berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika kita belum bisa berjuang dengan tiga medan juang tersebut, maka mulailah dari diri sendiri jangan melanggar syariat Nabi Muhammad Salallhu ‘Alaihi Wassalam dan untuk siapa pun yang sudah berjuang, tata kembali niat dalam berjuang, ikhlaskan diri niscaya dapat ridha Illahi.
Penulis: Moh. Minanur Rohman
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Medan Juang Islam
Ingin Ilmu Tetap Nyangkut? Amalkan Adab kepada Guru Berikut! Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Hari ini tepat 13 tahun yang lalu pada tanggal 23 Muharram 1431 H, Lembaga Pengembangan Dakwah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam fiqih, air kencing adalah najis menurut ijma’ ulama. Penentuan najis dapat dilihat dari tiga tanda menurut jumhur... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setelah menjalankan puasa di bulan Ramadan, kemudian kita masuk pada bulan Syawal. Ramadan sering disebut sebagai bulan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seorang mukmin yang dapat menikmati kemuliaan bulan Ramadan, adalah mereka yang senantiasa menghabiskan waktu dan kesempatannya dengan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahajah, Cirebon – Tahukan sahabat bahwa saat ini banyak sekali orang yang saling mencintai di dunia namun ternyata bermusuhan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Jumat, 02 Rabiul Akhir 1444 H atau bertepatan dengan Tanggal 28 Oktober 2022 telah diresmikan Pondok... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam ceramah yang dibawakan oleh Buya Yahya di acara Uswatun Hasanah, beliau menegaskan berbuat baik kepada orang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan lebih baik dari seribu bulan, malam yang penuh... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam era digital seperti saat ini, akses terhadap konten pornografi semakin mudah, dan hal ini menjadi perhatian... selengkapnya
Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000
Saat ini belum tersedia komentar.