● online
Mengurai Hadits Parenting: Memukul Anak yang Enggan Shalat

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam pengasuhan Islami, salah satu riwayat yang paling sering memicu perdebatan adalah perintah shalat bagi anak. Bagi sebagian orang, hadits ini kerap dijadikan “cek kosong” atau legitimasi hukuman fisik. Padahal, jika dikaji secara kontekstual, tekstual, dan psikologis, kata “memukul” dalam hadits ini jauh dari kesan kekerasan. Rasulullah Salalallhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika mereka berusia sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud).
Jeda 3 Tahun yang Sering Terlupakan
Sebelum sampai pada kalimat “pukullah mereka”, ingatlah bahwa ada rentang waktu yang sangat krusial, yaitu usia 7 hingga 10 tahun. Dalam jeda 3 tahun ini, terdapat lebih dari 1.000 hari atau sekitar 5.000 kali waktu shalat. Di fase ini, orang tua diperintahkan untuk mengajak, mengajari, dan membiasakan anak shalat tanpa ada ancaman pukulan sama sekali. Ini adalah proses penanaman nilai (internalization of values). Hukuman baru disinggung setelah ribuan kali keteladanan dan ajakan diberikan. Artinya, hukuman bukanlah pintu masuk utama, melainkan hanya sebagai upaya terakhir (ultimum remedium) dalam mendidik anak.
Apa Makna “Pukulan” dalam Islam?
Para ulama fiqih memberikan syarat yang sangat ketat terkait kata adh-dharb (pukulan) dalam hadits ini. “Pukulan” di sini bukanlah cerminan melampiaskan emosi dan meluapkan amarah, melainkan simbol ketegasan dan kedisiplinan.
- Tidak Boleh Melukai (Dharbun Ghairu Mubarrih): Tidak boleh meninggalkan bekas, memar, atau rasa sakit yang membahayakan.
- Dilarang Memukul Wajah: Wajah adalah pusat kehormatan diri. Islam melarang keras menyentuh area wajah dan bagian sensitif lainnya.
- Alat yang Digunakan: Para sahabat mencontohkan pukulan edukatif ini hanya menggunakan kibasan kain, tepukan ringan di bahu, atau batang kayu siwak.
- Niat Edukasi (Ta’dib): Jika orang tua memukul dalam kondisi marah, tindakan tersebut bergeser dari pendidikan menjadi pelampiasan emosi yang dilarang.
Tinjauan Psikologi: Mengapa Usia 10 Tahun?
Secara psikologi perkembangan, anak usia 10 tahun mulai memasuki tahap berpikir konkrit-operasional menuju formal. Mereka sudah mulai memahami konsep tanggung jawab, aturan, dan konsekuensi.
| Usia | Karakteristik Kognitif | Pendekatan Mendidik Shalat |
| 7–9 Tahun | Meniru perilaku, memahami instruksi sederhana. | Keteladanan, ajakan lembut, dan pujian. |
| 10+ Tahun | Memahami sebab-akibat dan konsekuensi aturan. | Ketegasan, pembatasan hak, dan evaluasi kesadaran. |
Pukulan ringan pada usia ini berfungsi sebagai shock therapy atau pembatas ketat (symbolic boundary) bahwa salat adalah perkara pokok yang tidak boleh diremehkan.
Reinterpretasi Konsekuensi untuk Generasi Modern
Di era modern, pendekatan fisik sekecil apa pun sering kali dipersepsikan berbeda oleh anak. Pendekatan pengasuhan Islami modern dapat menerjemahkan bentuk “pukulan” tersebut ke dalam bentuk ketegasan lain yang secara fungsi setara:
- Penerapan Konsekuensi Logis (Loss of Privileges): Menghentikan sementara akses gadget, membatasi waktu bermain, atau menunda aktivitas favorit sampai anak menunaikan kewajibannya.
- Komunikasi Hati ke Hati: Mengganti gestur kasar dengan tatapan mata yang tegas namun penuh kasih, serta mengajak anak berdiskusi tentang tanggung jawabnya kepada Allah.
Pada akhirnya, hadits ini bukanlah dalil untuk bertindak kasar, melainkan metode pengasuhan dan pendidikan anak secara bertahap, diawali kesabaran 3 tahun (ribuan ajakan), ditopang keteladanan, dan diakhiri ketegasan yang terukur. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri tidak pernah sekalipun mengajarkan apalagi secara langsung dengan sengaja mau “memukul” anak-anak. Oleh sebab itu, keberhasilan kita mendidik anak untuk rajin salat tidak diukur dari seberapa keras pukulan yang diberikan, melainkan seberapa dalam nilai ibadah itu tertanam di hati mereka. Didiklah anak-anak agar cinta beribadah, bukan cuma karena takut pukulan atau hukuman fisik semata.
Penulis: Ainun Mubin Misbah N.
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Mengurai Hadits Parenting: Memukul Anak yang Enggan Shalat
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Masih dalam semangat memperingati 80 tahun Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Yayasan Al-Bahjah mengajak orang tua untuk menjadikan pendidikan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebagian masyarakat, terdapat anggapan bahwa menggunakan pakaian bekas sebagai kain lap dapat menyempitkan rezeki. Di antaranya menyebutnya... selengkapnya
Sebentar lagi kita akan menyambut hari nan fitri, hari penuh keberkahan dan kebahagiaan. Untuk sampai pada hakikat fitri pada hari... selengkapnya
AKU menulis ini bukan sebagai seseorang yang telah selesai dengan hidupnya, melainkan sebagai seseorang yang masih berjalan tersendat, ragu, dan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Berkunjung ke Makkah dan Madinah merupakan impian yang dimiliki banyak orang. Makkah dan Madinah merupakan dua tempat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjaga silaturahmi merupakan salah satu hal yang penting yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. Melalui Nabi Muhammad... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu manusia membawa amanahnya masing-masing. Jika tidak dijaga, kekurangan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hubungan yang sehat dalam pernikahan adalah ketika pasangan saling mendukung, menghargai, dan memahami satu sama lain serta... selengkapnya
Pada tahun-tahun tertentu, kita menemukan hari raya bertepatan dengan hari Jumat. Bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan apakah melaksanakan shalat Jumat... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.