● online
Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di tengah maraknya dakwah melalui media sosial, tidak jarang muncul perdebatan mengenai amalan-amalan dalam Islam, salah satunya adalah tentang shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagian pihak menganggap ada jenis-jenis shalawat tertentu yang tidak boleh diamalkan karena dinilai berlebihan dalam mengagungkan Nabi. Hal ini kemudian menimbulkan kebingungan di masyarakat: apakah benar ada shalawat yang dilarang?
Dalam ajaran Islam, memang terdapat peringatan agar umat tidak mengultuskan Nabi secara berlebihan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nasrani terhadap Nabi Isa ‘Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri telah mengingatkan agar beliau tidak ditempatkan pada derajat ketuhanan. Namun, penting untuk dipahami bahwa larangan tersebut memiliki batas yang jelas, yaitu ketika pengagungan sampai pada level menyamakan Nabi dengan Tuhan. Selama pujian kepada Nabi tidak melampaui batas tersebut, maka hal itu bukanlah sesuatu yang terlarang. Bahkan, bershalawat merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Shalawat adalah bentuk cinta, penghormatan, dan pengakuan atas jasa Nabi dalam membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Perdebatan sering muncul pada contoh shalawat tertentu, seperti Shalawat Nariyah, yang oleh sebagian orang dianggap bermasalah karena mengandung kalimat-kalimat yang dinilai “terlalu tinggi” dalam memuji Nabi. Namun, jika dipahami dengan benar, makna dalam shalawat tersebut tidaklah keluar dari koridor aqidah.
Ungkapan-ungkapan seperti memohon kemudahan, terkabulnya hajat, atau terhindar dari kesulitan “dengan Nabi Muhammad” sejatinya masuk dalam konsep tawassul, yaitu menjadikan Nabi sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah. Hal ini memiliki dasar dalam tradisi keilmuan Islam dan tidak serta-merta bisa dianggap sebagai kesesatan. Bahkan dalam literatur hadist, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa para sahabat bertawassul dengan Nabi, termasuk dalam doa meminta hujan. Ini menunjukkan bahwa menyebut Nabi sebagai wasilah (perantara) bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam, selama tetap diyakini bahwa yang mengabulkan doa hanyalah Allah.
Kesalahpahaman sering terjadi karena kurangnya pemahaman bahasa Arab atau konteks makna dalam shalawat tersebut. Sebagian orang dengan mudah melabeli amalan tertentu sebagai bid’ah atau sesat tanpa kajian yang mendalam. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, penilaian seperti itu memerlukan kehati-hatian dan dasar yang kuat.
Di sisi lain, memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian orang yang berlebihan. Misalnya dengan menganggap shalawat tertentu lebih utama daripada shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi, seperti Shalawat Ibrahimiyah. Sikap seperti ini tentu tidak tepat, karena tidak ada shalawat yang lebih utama daripada yang diajarkan oleh Rasulullah sendiri. Selain itu, muncul pula fenomena lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu membuat-buat keutamaan shalawat tanpa dasar yang jelas, bahkan sampai mengatasnamakan sabda Nabi. Misalnya, klaim bahwa membaca shalawat tertentu dalam jumlah tertentu akan mendapatkan pahala khusus, padahal tidak ada dalil yang sahih. Hal seperti ini termasuk dalam perbuatan yang harus dihindari karena berpotensi menjadi dusta atas nama Nabi.
Perdebatan mengenai redaksi shalawat, seperti penggunaan kata tertentu dalam bahasa Arab, juga sering kali berlebihan. Padahal, selama maknanya benar dan tidak menyimpang dari aqidah, tidak ada alasan untuk saling menyalahkan. Mengubah redaksi hanya karena terpengaruh tuduhan yang belum tentu benar justru menunjukkan kurangnya kepercayaan diri dalam memahami ajaran itu sendiri.
Pada akhirnya, shalawat adalah amalan mulia yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Melalui shalawat, seorang hamba berharap mendapatkan rahmat dari Allah. Sebagaimana janji bahwa setiap satu kali shalawat kepada Nabi akan dibalas berkali-kali oleh Allah. Perbedaan dalam praktik seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling mencela. Yang perlu dijaga adalah adab, keilmuan, dan kehati-hatian dalam berbicara tentang agama. Karena dalam urusan seperti ini, yang lebih berbahaya bukanlah perbedaan itu sendiri, tetapi sikap mudah menyalahkan tanpa pemahaman yang utuh.
Referensi: Ceramah Buya Yahya di Youtube Al-Bahjah TV
Penulis: Nur Robi Ari Saputra
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam upaya menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan melanjutkan sinergitasnya, Pondok Pesantren Al-Bahjah Pusat mengukuhkan pengasuh baru. Acara... selengkapnya
Sering kali tanpa disadari kita berjabat tangan, bersalaman, bahkan berinteraksi dengan lawan jenis tanpa mengetahui apakah ia termasuk mahram atau... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah (STAIBA) yang merupakan salah satu bagian dari Divisi Formal Yayasan Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Ketika sedang berpuasa, khususnya di bulan suci Ramadhan, hal yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam adalah waktu... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Haru dan bahagia pecah diantara para santri dan pejuang pada sore hari Jumat 3 Sya’ban 1444... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mandi pada hari Jum’at memiliki kedudukan yang berbeda dengan mandi di hari-hari yang lain, jika dilihat dari... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pada akhir tahun 2023 ini, SMAIQu Al-Bahjah Pusat Cirebon kembali meraih prestasi gemilang pada acara Ekspose... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan sebagai upaya penyebaran ilmu agama Islam, Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di zaman yang disebut sebagai era digital. Zaman yang memungkinkan setiap orang dapat menggenggam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita kembali diingatkan pada sebuah peristiwa besar dan menakjubkan sepanjang sejarah manusia, yaitu perjalanan Isra dan Mi’raj Baginda Nabi Muhammad... selengkapnya
Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900
Saat ini belum tersedia komentar.