Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Diposting pada 11 Februari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 391 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Secara tak sadar kita sering mendengar cerita atau curhatan seseorang yang tampak terus-menerus disakiti, merasa tidak pernah dipahami, dan selalu menjadi pihak yang paling menderita. Saat bercerita seseorang suka menempatkan diri dalam posisi korban setelah terjadi permasalahan entah itu dengan teman, pasangan, rekan kerja maupun tetangga. Situasi ini dikenal dengan istilah playing victim.

Playing victim adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berpura-pura atau sengaja menempatkan dirinya sebagai korban. Padahal, sebenarnya dia mungkin ikut bersalah, atau bahkan pelaku dari masalah. Secara psikologis, playing victim ialah kondisi ketika seseorang secara sadar atau tidak sadar menempatkan dirinya sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab, memanipulasi orang lain, dan menarik simpati.

Ditinjau dari cabang ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna (etimologi), istilah playing victim berasal dari bahasa Inggris. Kata “playing” memiliki makna bermain. Sedangkan kata “victim” memiliki makna korban. Jika kedua kata digabungkan, maka mempunyai makna “bermain korban”. Dalam konteks psikologi dan perilaku, secara harfiah playing victim berarti “berpura-pura menjadi korban” atau “berperan sebagai korban”. Dalam penggunaan sehari-hari, playing victim tidak hanya berarti berpura-pura jadi korban, tetapi juga memiliki konotasi manipulatif, yaitu menggunakan posisi “korban” sebagai alat untuk menghindari kesalahan atau memengaruhi simpati orang lain.

Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) belum memiliki padanan baku tunggal untuk playing victim. Namun, ada beberapa idiom, istilah atau frasa yang sering digunakan sebagai terjemahan yang kontekstual. Pertama, berpura-pura menjadi korban; frasa yang paling mendekati makna harfiah. Kedua, memainkan peran sebagai korban; frasa netral atau bisa dipakai dalam konteks ilmiah. Ketiga, sikap mental korban; frasa atau istilah psikologis. Keempat, mentalitas korban atau mental korban; frasa yang biasa digunakan untuk menggambarkan pola pikir seseorang yang selalu merasa disakiti atau dianiaya, meski belum tentu kebenarannya. Kelima, drama korban; frasa yang digunakan secara informal untuk menyindir orang yang memanfaatkan narasi korban demi mendapatkan simpati.

Seseorang yang playing victim biasanya memiliki ciri khas, seperti suka menyalahkan orang lain atas masalahnya, sulit menerima kritik, dan sering menarik simpati dari lingkungan sekitar. Mereka seolah-olah tidak pernah salah dan dunia terlalu kejam pada mereka. Perilaku seperti ini berasal dari pengalaman traumatis, pola asuh yang otoriter, atau bahkan strategi pribadi untuk menghindari tanggung jawab.

Psikolog klinis asal Indonesia, Anastasia Nadya Caestara, menyatakan bahwa perilaku playing victim sering kali muncul karena individu tidak dibiasakan bertanggung jawab sejak kecil. Dalam wawancara yang dikutip dari jurnal Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, ia menjelaskan bahwa individu yang memiliki ego cenderung membentuk narasi diri sebagai korban agar tetap diterima secara sosial dan terhindar dari rasa malu atau gagal.

Persoalan ini juga mendapat sorotan dari Dr. Guy Winch, penulis buku Emotional First Aid. Ia mengatakan, “Menjadi korban adalah pengalaman, tapi memainkan korban adalah pilihan.” Dalam konteks ini, playing victim merupakan bentuk manipulasi emosional yang bertujuan memperoleh simpati atau kekuasaan emosional atas orang lain.

Sebetulnya, contoh nyata playing victim banyak terjadi dalam hubungan interpersonal atau antarpribadi. Misalnya, seorang pasangan yang bersikap kasar, tetapi ketika ditegur justru menangis dan berkata, “Aku begini karena kamu nggak pernah perhatian.” Alih-alih mengakui kesalahan, ia menggunakan posisi korban untuk menghindari tanggung jawab dan membuat lawannya merasa bersalah.

Dalam skala lebih besar, playing victim juga banyak ditemukan di dunia politik atau selebritas. Misalnya, seorang politikus yang dikritik karena kebijakannya biasanya berkata, “Saya diserang terus, padahal niat saya baik.” Atau publik figur yang terlibat skandal kemudian tampil di depan publik dengan tangisan dan pernyataan “Saya hanya manusia biasa”. Keduanya, jika dilakukan secara sadar dan terus-menerus, ini adalah bentuk manipulasi citra yang berbahaya.

Sebuah studi dari Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa individu yang memiliki victim mentality (mentalitas korban) sering kali merasa lebih berhak atas empati dan mendapat perlakuan khusus. Mereka juga lebih cenderung memutarbalikkan situasi agar terlihat benar di mata orang lain, bahkan ketika mereka yang memicu konflik.

Sosiolog Indonesia, Imam B. Prasodjo, dalam beberapa kesempatan mengkritisi budaya “selalu merasa dizalimi” dalam masyarakat. Menurutnya, kebiasaan merasa jadi korban tanpa refleksi akan menghambat pembangunan karakter dan budaya tanggung jawab. “Kalau semuanya merasa dizalimi, siapa yang mau membenahi keadaan?”

Oleh karenanya, sebagai masyarakat kita perlu lebih cermat membedakan antara korban yang sungguh-sungguh perlu dukungan, dengan mereka yang menjadikan status korban sebagai cara untuk menghindari introspeksi. Lalu, jika kita menyadari diri sendiri sering merasa sebagai korban, cobalah untuk lebih jujur. Apakah saya benar-benar disakiti, atau saya hanya tidak mau disalahkan?

Adapun dampak dari pola ini cukup serius. Selain merusak hubungan pribadi dan profesional, mentalitas playing victim juga melemahkan kemampuan individu untuk menghadapi kenyataan. Jangka panjangnya, ini bisa berujung pada learned helplessness, yaitu kondisi di mana seseorang merasa tidak mampu mengubah nasibnya meskipun sebenarnya bisa. Jika tidak diatasi, playing victim bisa mengakar sebagai identitas sosial yang menghambat pertumbuhan pribadi.

 

Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon)

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
5 Jenis Cinta Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ada yang Terlarang!
16 September 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Cinta merupakan kepemilikan perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata. Sifatnya abstrak dan tak dapat dirasakan oleh... selengkapnya

Hati-Hati! Jangan Jadi Laki-Laki Dayyuts, Ini Ancamannya di Akhirat Kelak
27 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Salah satu golongan orang yang akan masuk neraka adalah laki-laki dayyuts. Siapakah laki-laki dayyuts ini? Ummi... selengkapnya

Kamu Sedang Galau? Coba Amalkan 9 Cara Membenahi Hati Ini
29 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hati adalah cerminan diri kita sendiri. Ketika hati itu baik maka perilaku pun menjadi baik, begitu pun... selengkapnya

Kenali 6 Jenis Paragraf Ini Sebelum Kamu Menulis. Lengkap dengan Contohnya!
10 Desember 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Penulis hebat tidak pernah terlepas dari kemampuan penulisan paragraf yang baik, sehingga pengetahuan paragraf yang baik... selengkapnya

Keimanan Tidak Hanya Diukur dari Ibadah Ritual, Tetapi Juga Tercermin dalam Memperlakukan Orang Lain
5 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Manusia tidak pernah hidup sendirian. Sejak ia dilahirkan hingga kembali kepada tanah, hidupnya selalu berada dalam jaringan relasi... selengkapnya

Bilal bin Rabah: Simbol Keteguhan Seseorang dalam Mencecap Lezatnya Iman
15 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kehidupan Bilal tak ubahnya dengan budak lainnya. Hari-harinya berlalu secara rutin tapi gersang, tidak memiliki sesuatu pada hari... selengkapnya

Hikmah dan Renungan Umat Muslim di Tahun Baru Masehi yang Bertepatan dengan Datangnya Bulan Rajab
31 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pergantian tahun dapat dijadikan momen refleksi bagi banyak orang, termasuk umat muslim. Tahun baru Masehi sering kali... selengkapnya

Sambut Idul Adha 1444 H, LPD Al-Bahjah Gelar Buka Puasa Arafah Bersama
28 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – LPD Al-Bahjah menggelar buka puasa Arafah bersama pada hari Kamis 9 Dzulhijjah 1444 H , 28... selengkapnya

Pentingnya Merenung Sebelum Bertindak (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)
22 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Keberhasilan seseorang dalam menghadapi tantangan, memecahkan masalah, atau mencapai tujuan tergantung tindakan atau keputusannya sendiri. Namun, banyak orang... selengkapnya

Hukum Wudhu dengan Air Asin
6 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di beberapa daerah pesisir yang dekat dengan laut, masyarakat kerap menghadapi kenyataan bahwa sumber air yang tersedia terasa... selengkapnya

Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: