● online
Buya Yahya: Kalau Hanya Ingin Dipuji Manusia, Maka Hidup Akan Lelah

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Media sosial sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern, khususnya generasi muda. Kehadirannya memberikan banyak manfaat, mulai dari mempermudah komunikasi, memperluas relasi, hingga menjadi sarana berbagi ilmu dan informasi. Namun, di balik manfaat tersebut, media sosial juga membawa tantangan besar bagi kesehatan mental dan ketenangan hati, termasuk bagi Muslimah.
Saat membuka media sosial, seseorang sering kali melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Ada yang terlihat sukses di usia muda, memiliki penampilan menarik, hubungan yang harmonis, hingga pencapaian akademik maupun karier yang membanggakan. Tanpa disadari, hal tersebut dapat memunculkan kebiasaan comparison atau membandingkan diri dengan orang lain. Akibatnya, banyak Muslimah merasa insecure, kurang percaya diri, bahkan merasa tertinggal dalam hidupnya sendiri. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan realita sebenarnya. Sebagian besar orang hanya memperlihatkan sisi terbaik dalam hidup mereka. Hal ini diperkuat oleh penelitian dari Royal Society for Public Health di Inggris yang menyebutkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti munculnya rasa cemas, rendah diri, dan kesepian. Fakta tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu memberikan dampak positif apabila digunakan tanpa kontrol diri.
Dalam Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan manusia agar tidak terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain hingga lupa bersyukur atas nikmat yang dimiliki. Setiap orang memiliki jalan hidup, ujian, dan rezeki yang berbeda. Oleh karena itu, Muslimah perlu memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah likes, followers, ataupun komentar dari orang lain. Buya Yahya pernah menyampaikan bahwa:
“Kalau hidup hanya ingin dipuji manusia, maka kita akan lelah. Sebab manusia tidak akan pernah selesai dalam menilai.”
Peryataan tersebut mengajarkan bahwa mencari validasi manusia secara berlebihan hanya akan membuat hati mudah kecewa. Saat seseorang terlalu bergantung pada pengakuan orang lain, ia akan merasa tidak cukup ketika tidak mendapatkan perhatian sesuai harapan. Akibatnya, media sosial bukan lagi menjadi tempat berbagi manfaat, melainkan tempat mencari penerimaaan.
Selain itu, budaya oversharing atau membagikan terlalu banyak hal pribadi di media sosial juga semakin sering terjadi. Banyak orang merasa semua hal harus dipublikasikan, mulai dari masalah pribadi, hubungan, hingga kesedihan yang sedang dialami. Padahal, dalam Islam menjaga privasi merupakan salah satu bentuk menjaga kehormatan diri. Tidak semua hal perlu diketahui publik, karena tidak semua orang mampu menjaga rahasia dan memberikan respons yang baik.
Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam juga mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan perilaku, termasuk dalam dunia digital saat ini. Apa yang diunggah di media sosial akan meninggalkan jejak dan dapat memengaruhi diri sendiri maupun orang lain. Oleh sebab itu, Muslimah perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial agar tidak terjebak pada hal-hal yang merugikan diri sendiri.
Menjaga hati di era sosial bukan berarti harus meninggalkan teknologi sepenuhnya. Sebaliknya, seorang Muslimah perlu belajar menggunakan media sosial dengan lebih sehat dan sadar. Salah satu caranya ialah membatasi waktu penggunaan media sosial, mengikuti akun yang membawa pengaruh positif, serta memperbanyak aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan begitu, hati akan lebih tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh kehidupan orang lain.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Dampaknya bergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya. Jika digunakan dengan bijak, media sosial dapat menjadi sarana belajar, berdakwah, dan menyebarkan kebaikan. Namun, jika digunakan tanpa kontrol diri, media sosial justru dapat membuat hati lelah, penuh perbandingan, dan jauh dari rasa syukur. Oleh karena itu, Muslimah perlu menjaga hati, menjaga diri, dan menjadikan hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai prioritas utama di tengah derasnya arus dunia digital.
Penulis: Lintang Nur Isna Faradilla
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Buya Yahya: Kalau Hanya Ingin Dipuji Manusia, Maka Hidup Akan Lelah
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah (STAIBA) merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi dibawah naungan Yayasam Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Cinta merupakan fenomena yang lazim dialami oleh setiap manusia. Dan hawa nafsu merupakan sesuatu yang fitrahnya... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap persoalan yang menimpa kita, sering kali merupakan akibat dari apa yang telah kita perbuatan sendiri. Kegundahan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Komunikasi harus senantiasa dilakukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Karena tidak sedikit permasalahan berawal dari buruknya komunikasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada dasarnya dalam Islam terdapat syariat mengenai hal-hal yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan pernikahan. Namun tidak sedikit di... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini, dunia sedang terfokus pada peperangan yang terjadi di Timur Tengah. Yakni peperangan antara Israel yang didukung... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Selama kurang lebih satu pekan, Buya Yahya melakukan safari dakwah di Kalimantan Barat sejak hari Sabtu,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia terkadang mengalami depresi berat yang sulit untuk diselesaikan. Reaksi setiap orang dalam menghadapinya berbeda-beda, ada... selengkapnya
Kejelian Memanfaatkan Ruangan untuk Mendatangkan Kesuksesan PUSTAKA Al-BAHJAH-SEPUTAR PONDOK-Mendungnya sore hari pada hari Rabu, 13 Rabiul Awal 1443 H atau... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000
Saat ini belum tersedia komentar.